Archive for the 'sepeda' Category

03
Mar
11

Latest Incarnation

New frame, crankset and seatpost. DX3.0 2010, old Deore with custom singlespeed 32T chainring, and 31.6x400mm Uno.

Btw, posting perdana dari BB! :mrgreen:

edit: ok, I admit kalo ngedit ukuran fotonya ngga dari BB. 😳

Iklan
23
Jan
11

for my 25th bday I got a..

broken collarbone. Yup, kejadiannya 8 Januari kemaren di Cikole. Crashed di chickenway-nya drop setelah berm zigzag abis section doremi. Suddenly I got sent over the bar and landed shoulder first. Don’t ask me why I got sent over the bar in the first place, I too don’t know the cause. I crashed, dan meskipun ngga ilang kesadaran, pas nyoba bangun tangan kanan ngga bisa dipake buat numpu. Dislocated shoulder was what came to my mind first. Took of my T-shirt to do some inspection, and when I felt a bulge on what was supposed to be my clavicle, I was almost sure that it must be broken.

TKP, foto diambil dua hari sebelum kejadian. Kredit foto: Arly Aurizki Putra

Made an emergency arm sling from my T-shirt (dan arm sling itu dibilang bagus sama dokternya, hihi), and got evacuated to Bandung. Admitted to Halmahera Hospital where I was X-ray’d. It really was a fracture. Patahnya di 1/3 tengah klavikula kanan, oblique. Karena masih bingung mau operasi atau ngga, akhirnya di Halmahera cuma di fiksasi dengan ransel velband. Spent the night in Jakarta, the next morning I was told by a relative, who also a doctor, to be operated in Solo. Took a quite cheap Garuda flight w/out reservation that same morning (some panic event omitted here) and I was operated on the evening. πŸ™‚

before and after.

Selama masa pemulihan di Solo, which is quite boring for the first few days with no internet connection, I’ve spent my time wondering what went wrong. Rider atau sepeda? Kondisi trek? Kenapa jatuh? Cara jatuh yang salah? Well, on to elaboration. Kondisi badan hari sabtu itu terbilang fit selain pergelangan tangan kanan yang range of motion-nya belum full sejak jatuh hari minggu sebelumnya. Paha kanan ada yang ketarik sedikit karena memakai seatpost yang terlalu pendek ketika riding hari kamis (ketika foto di atas diambil). Setting sepeda cuma ganti seatpost+saddle aja dari setting riding sebelumnya. Kondisi trek sangat kering, tidak seperti Cikole biasanya yang licin-licin asyik. :mrgreen:

Lha, kalo gitu kenapa jatuh? Well, I was riding faster than ever (it was unusually dry!), but I’m sure I was riding within my capabilities. I wasn’t trying new lines. I kept my vision way ahead andΒ wasn’t “surprised” with berms and drops. Right, berms and drops. No wonder I crashed on a chickenway. Thing is, a chickenway is usually designed to be a way around a big obstacle. Hence the name. People usually ride it SLOWLY. At the moment of the crash I was exiting the previous berm way quicker than I usually was and hitting the chickenway quite fast. On second thought, my speed was actually enough to clear the drop next to chickenway. I didn’t take the drop because I’m not familiar with it and it somehow seemed quicker if I took the chickenway. πŸ™„

So, my front wheel must be stuck on to something on that chickenway. Stuck on to what, I don’t know. I went over the bar, and crashed shoulder first. I should have done an ukemi back then, but there are some possible factor as to why I didn’t. First, lack of ukemi practice. Second, I haven’t get used to crashing at that kind of speed in Cikole. Third, the crash was so sudden. Fourth, I was still protecting my right wrist unconsciously. Fifth, a few weeks before I was having a pool jump session and impacting into the water with no ukemi (why should I?), probably messing my ukemi reflexes. In the end, no ukemi, and add that to the fact that the track was really dry so it was all impact with no dissipation from sliding. 😐

And here I am with a broken bone. Hopefully it will heal fast. Well, my friend said that oblique fractures heal faster than tranverse one. So here I am, hoping. πŸ˜€

Apart from the mountain biking side of stuff, quite a few other things come to mind. I was somehow quickly be in a state of acceptance that I broke one of my bones (well, statistically, clavicles are the most common broken bone in the human body). I wasn’t as composed as that when it comes to treatment expenses though, but thankfully it wasn’t as bad as I thought it would be. I really am grateful.

Being grateful and accepting is, frankly speaking, what I really need at the moment. I actually was going to whine that someone was treating me sardonically when I got an accident from doing things I like the most. When I got an accident while I was trying to figure things out. Well, I guess the accident is a part of figuring things out. And I understand that sardonism. Wait, I wasn’t talking about guessing and understanding. So.. the thing is, usually I expect the same someone to make a blogpost about this day. Keep expecting is not being grateful and accepting, so there goes a lot of expectations. Maybe what I just type are only typings, but I alwaysΒ have to try. Yang penting usaha. :mrgreen:

17
Jan
11

New Riding Photos (dec 2010 – jan 2011)

kredit foto: Β Adam-man Devito

kredit foto: Dian Agung Nugroho

kredit foto: Reza Firmanda

07
Okt
10

sisipan

sisipan. ngga seru aja kalo dua post berturut-turut tentang hal yang sama. eh, tapi kalo dua post berturut-turutnya tentang sepeda kayaknya pernah ya? hihi.

28
Jun
09

Sepeda Baru.. Udah Agak Lama sih Sebenernya..

P5090318

Polygon Cozmic DX3.0

Pada latar belakang adalah Gunung Burangrang. Lokasi di dekat Observatorium Bosscha. πŸ˜€

31
Jan
09

Bandung-Jakarta… dengan Sepeda Lipat!!!

Tanggal 21 Desember kemaren, berdua sama Faddin naek sepeda ke Jakarta. Berangkat dari Bandung jam 5.30 setelah sebelumnya ketemuan dulu di bawah jalan layang Pasopati, perempatan Cihampelas-Pasteur. Saya pake Dahon Matrix sepeda lipat 26-inch, sementara Faddin pake Kona Cowan..

img_0743

Perjalanan diawali dengan melalui jalan Pasteur – Gunung Batu – Cimindi – Cimahi – Padalarang yang kebanyakan datar. Selepas Padalarang, sebelum turunan menuju Ciranjang, kita minum dulu.. istirahat pertama!

img_0744

Turunan dilalui kayak orang kesetanan! Udah kayak motogp aja, mirip2 sama turunan dari Lembang menuju Bandung. Baru setelah diingetin Faddin buat santai aja dan nikmatin pemandangan, baru deh agak pelan dikit, meski masih agak berat rasanya buat megang brake lever, hehe.. Sempet kepikiran juga, kalo misalnya kapan-kapan trip ini dibalik jadi Jakarta-Bandung, ugh, tanjakan tanpa henti, banyak truk nanjak, dan di bagian akhir perjalanan pas capek-capeknya!

img_0755

Turunan kesetanan dilanjutkan dengan jalan datar yang cukup panjang, menuju dan melewati Ciranjang. Sempet ketemu beberapa bapak-bapak yang menggunakan sepeda road, wuih pada ngacir! Nah, pas sampe di jembatan yang view nya bagus, foto-foto dulu dong πŸ˜›

img_0759

Setelah Ciranjang, istirahat lagi, sebelum akhirnya belok kanan menuju Cariu-Jonggol. Eh, tempat istirahatnya deket mesjid tempat Kang Masri sama Teh Ratih nikah lho, hehe πŸ˜›

Jalan menuju Cariu-Jonggol diawali dengan datar-datar saja, namun kemudian tiba-tiba jadi naik turun, naik turun, duh banyak elevation loss nya nih..

img_0771

Setelah menaklukan tanjakan tanpa pake granny gear, melawan panas terik, istirahat di samping Mushalla Al-Huda, restocking supply, ngelanjutin perjalanan yang tampaknya tinggal turunan. Ternyata masih ada beberapa tanjakan lagi! Tidak lupa turunannya, ada beberapa yang menggoda untuk melepas rem gitu aja, tapi apa mau dikata, jalan yang jelek menyentuh rasa sayang saya pada frame sepeda lipat pinjaman ini.. Faddin dengan Kona Cowan nya udah kayak maen downhill aja! Yah, dan ini terus berlanjut sampai Jonggol.. Turun.. Naik.. Turun.. Naik..

copy-of-img_0774

Sebelum Jonggol, gerimis turun, danΒ  kita memutuskan untuk berteduh. Tiba-tiba ada sepeda motor menepi dari arah Bekasi, ternyata Kang Malazi! Ternyata Kang Malazi sedang dalam perjalanan dari Bandung menuju Bekasi, dan memutar setelah menyalip saya. Dia udah di jalan dari Bandung selama tiga jam, jadi sekalian istirahat juga.

Selepas Jonggol, saya dan Faddin udah drop, Faddin sempet kesasar karena jauhnya jarak yang tidak sadar terbentuk sama saya. Rencana awal untuk melewati flyover Cileungsi tidak dilaksanakan, dan langsung memotong jalan lewat perumahan, langsung ke Jalan Narogong. Di Narogong, kondisi fisik Faddin tambah parah, sampe kejang segala, yah, itu katanya Faddin sih.. Apa mau dikata, pake frame DJ buat intercity touring, itu aja udah hebat banget πŸ˜€

Sesampainya di lampu merah pintu belakang Kemang Pratama jam tiga sore, saya belok kiri, Faddin belok kanan langsung ke rumahnya di Bekasi Timur. Keluar di samping Metropolitan Mall, saya nerusin menyusuri Kalimalang sampai akhirnya nyampe rumah saya di bilangan Pondok Kelapa jam empat sore..

Sampe di rumah, langsung kerasa capeknya minta ampun! Bawaan nya jadi ngga sabaran, super egois, ngga pedulian, komplit lah.. Perlu waktu agak lama sampe bisa tenang lagi, pelajaran berharga tentang efek somopsikotik (kebalikan psikosomatik :p ). Cukup jadi alasan buat ngga sering2 kecapekan sebenernya.

Tapi di sisi lain, secara pribadi, saya menganggap itu pencapaian, termasuk sama yang akhirnya bisa genjot sampe puncak Tangkuban. Itu, dan ini, dahulu adalah hal-hal yang saya kira tak mungkin dilakukan. Yah, untuk segi pencapaian fisik doang sih emang, dan dengan parameter saya sendiri. Oleh karena itu, dua hal ini, di antara hal-hal lain, menjadi batasan yang saya jadikan target untuk dikalahkan. Saya telah mencapainya. Dengan nilai tambah pula, semua tanjakannya ngga pake granny gear! Yeah! 😈

Dan pada prosesnya, ternyata bukan hanya batasan fisik saja yang saya telusuri. Sedikit banyak, batasan mental juga, bahkan hingga kemampuan interpersonal!

Pembelajaran. Pengalaman. Yah, sedikit hadiah untuk saya yang tambah tua minggu lalu. :mrgreen:

Hehe, malah jadi ngomongin milad sendiri, terinspirasi post ini sih 😳

11
Des
08

Hiatus Ngga Jelas, Ngapain Aja? Sepedaan…!!

Mulai dari upgrade sepeda, dibawa ke jakarta dan maen2 di UI, nanjak sampe puncak Tangkuban Perahu, kecurian sepeda dan tidak patah semangat untuk tetep ikut lomba sepeda dengan pinjem sepeda temen.

Upgrade sepeda yang sudah direncanakan dari dahulu kala akhirnya bisa terrealisasi setelah dapet angpau pas lebaran. Tujuan upgrade sepeda kali ini meningkat kan performa braking sepeda dengan mengganti brakeset. Rem sepeda yang tadinya masih pake v-brake diganti disc brake mekanik. Karena untuk memasang disc brake mekanik harus ada mounting buat rotor/disc nya di hub, akhirnya sekalian upgrade wheelset juga.

Upgrade yang dilaksanakan tanggal 26 Oktober 2008 langsung kerasa enaknya pas dipake ngebut di trek DH2 Cikole, Tangkuban Perahu, keesokan harinya. Memang benar, tak bakal berani ngebut kalo tak yakin bisa berhenti. Use your brake to make you go faster! :mrgreen:

Nah minggu depannya tanggal 2 November 2008, setelah keseringan ngebut di turunan, sekarang saatnya kembali ke selera asal, nanjak! Kali ini setelah janjian sama Pak Riqqi untuk ketemu di gerbang depan ITB jam setengah tujuh pagi, saya dan Yudha ngikutin Pak Riqqi yang tau jalur alternatif menuju Lembang, dan seterusnya menuju Tangkuban Perahu.

dsc01199copy1

Di Puncak Tangkuban Perahu

Jalurnya enak banget! Dikit banget mobil yang lewat, jadi kesegaran udara pagi Bandung dapat dirasakan tanpa setengah-setengah. Dan saya terkejut ketika jam delapan sudah nyampe Lembang, terus jam setengah sepuluh sudah sampai Cikole. Saya dan Yudha meneruskan nanjak sampe puncak Tangkuban Perahu sementara Pak Riqqi menunggu di parkiran buat makan di kantin langganannya.

Genjot ke Tangkuban Perahu kali ini terasa berbeda dibanding pertama kali gowes ke sana. Tubuh masih lumayan terasa segar untuk meneruskan nanjak sampai ke puncak Tangkuban tanpa harus menghabiskan tenaga yang tersisa buat turun nantinya. Beberapa faktor seperti pemilihan jalur dan persiapan yang agak berlebihan bagus berperan signifikan dalam menjaga tubuh tetap fit dalam genjot kali ini.

dsc01204cropwide1

Di Kebun Teh Sukawana

Setelah sampai puncak Tangkuban Perahu, saya dan Yudha segera turun agar tidak kesiangan pulangnya. Rendezvouz sama Pak Riqqi di parkiran bis, terus dari situ turun melewati jalur hiking offroad dalam hutan, menuju kebun teh Sukawana. Dari situ kita kemudian kembali ke peradaban keluar ke jalan raya di belakang terminal Parongpong trus ditraktir bakso sama Pak Riqqi. Hehehe, terima kasih Pak Riqqi..!! :mrgreen:

Minggu depannya, tanggal 8 November 2008, giliran sepedaan ke Jakarta. Di UI kebetulan lagi ada funbike, jadi sekalian deh, naek kereta bawa sepeda Jumat pagi 7 Novembernya, sekalian besoknya ngapel juga setelah funbike, hehehe 😳 (cerita lengkap tidak terkait ngapel nya ada di sini). πŸ˜›

Kemudian hari Rabunya menapak-tilasi rute yang sama ketika nanjak ke Tangkuban Perahu, sendirian! Dan karena ada kerjaan siangnya, jadinya cuma sampe Cikole doang. Gowes terus sampai drop-off pohon, baru nurunin separo trek DH3 Cikole, lanjut nurunin trek DH2 Cikole, terus balik ke Lembang lewat jalan raya. Dari Lembang balik ke Bandung lewat Maribaya – Taman Hutan Raya Juanda yang sekarang jalan single trek makadam nya udah dipaving mulus. Sorenya beli ban Maxxis Wetscream dari om Antonasik di toko Dedi samping IBCC Jalan Ahmad Yani.

Jumatnya beli Maxxis Medusa di Nets, terus langsung pasang, langsung dicobain di jalan aspal, wuih langsung kerasa berat banget! Secara emang Wetscream dan Medusa itu ban untuk jalan tanah berlumpur, dengan knob yang tinggi alias cangkul, kalo dipake di aspal mulus malah jadi lambat. Malem nya nongkrong sama anak2 street di Cikapayang, pamer satu2nya trik yang bisa dilakuin, no hander trackstand! πŸ˜›

Sabtunya DH lagi di Cikole bareng anak2 BAM, baru mulai langsung nabrak pohon, fork jadi bengkok ke arah sepeda. Akhirnya sama Pak Bismo fork nya dibalik sehingga menghadap belakang (arc nya ada di belakang) model fork-fork keluaran Manitou gitu.

DH yang biasanya artinya DownHill berubah nama jadi DownHell ketika hujan turun, bahkan Wetscream pun jadi donat! Saking berlumpurnya trek DH3 Cikole, di section kobra yang meliuk2, anak2 BAM udah nungguin yang lewat yang pasti bakal jatuh, terus sempet maen perosotan pula! πŸ˜† Eh, tunggu dulu, DownHell belum berakhir sampai disitu ketika kita pulang lewat trek Jayagiri-1, isinya akar licin, jalan air alias v-groove serta jalur yang udah kayak tangga ngga ada mulusnya, dan itu dijalanin dengan fork rusak! Gak mau lagi! πŸ‘Ώ

Pulang dalam keadaan berlumpur, sepeda ditaro di garasi kosan masih dalam keadaan sangat kotor. Malamnya sengaja tidak dikunci karena melihat garasi kosan telah digembok dan toh besok sepedanya bakal dicuci juga. Dan paginya ketika baru bangun, ditelpon sama adek yang ngekos di seberang kosan, sepedaku ilang diambil maling! Langsung ngecek ke depan, iya beneran ngga ada!

Setelah dicek ternyata garasi kosan ada satu titik lemah di salah satu gembok garasi yang kegedean sehingga tidak bisa masuk ke lubang gembok garasi, sehingga gembok hanya disambung dengan rantai yang kecil sekali sehingga bisa langsung diputus. Bukan hanya itu, gerombolan pencuri memang sudah mentarget sepeda, tiga sepeda hilang sekaligus dari garasi kosan malam itu, salah satu yang dikunci pun kuncinya diputus entah pakai apa.. 😦

Namun sepeda hilang tidak bisa menghilangkan semangat bersepeda, berbekal sepeda pinjeman Malis, kali ini bersepeda berempat bersama Nano, Faddin sama temennya Faddin, nanjak lewat rute yang sama menuju Cikole. Mampir dulu di Lebak Siliwangi buat nungguin Faddin sekaligus nyapa anak2 BAM. Segera setelah Faddin datang, kita gowes ke pertigaan Cieumbeuleuit, belok kanan, dan meneruskan perjalanan ke arah Lembang. Sepedaan kali ini dalam rangka testride Polygon dan nonton Cikole Dirtfest.

Nyampai di Cikole, langsung daftar Testride sambil liat2 peserta Dirtfest pemanasan. Testride nya puas banget, total sampai tujuh sepeda baru dicobain, SX3.0, SX1.0, AX1.0, AX2.0, DX2.0, DX3.0 sama CX1.0 (dari 16 yang dibawa panitia Testride). Pertamanya cuma muter-muter sama ngetes trackstand dulu, tapi pas ada pickup naek ke tempat start trek Cikole-3, langsung “ngembat” AX1.0 buat dicobain di trek DH beneran. Karena selama ini terbiasa pakai hardtail, pake fulsus langsung kerasa enak banget! Gak cuma itu, AX1.0 terasa mirip hardtail ketika digenjot, tak ada bobbing, rear suspension nya baru maen kalo ada bump gede atau drop-off. Setelah itu, nyobain DX3.0 juga di trek Cikole-3 dan Cikole-2, puassss! :mrgreen:

Faddin - saya - Pawl - Has

Faddin - saya - Pawl - Has

Minggu depannya, giliran maen di Ciwalk, ada kejuaraan Indonesia Open X-sports Championship alias IOXC. Ikut Urban DH kelas Men Open, di trek dalam Ciwalk yang ditambahin obstacle buatan. Sayangnya karena baru pertama kali ikut lomba jadi grogi dan nyobain trek nya cuma bentar deh. Apalagi sempet jatuh di tabletop gara2 terlalu cepat, kaki lepas dari pedal trus jadi superman, sayang ngga ada yang ngefoto, huhuhu. Pas seeding grogi nya tambah parah, di belokan pertama yang benernya pas latihan udah dicobain dan bisa, malah overshoot! Trus di triple jump pumpingnya telat, di tangga jatuh, dan di parkiran, section terakhir yang ga ada obstacle apapun, rantai malah lepas, jadi cuma coasting meski akhirnya rantai bisa masuk dan bisa genjot mpe finish. Waktunya jelek banget, ga masuk final. 😦

Klik gambar untuk cerita lebih lengkapnya..

Setelah Ciwalk, kembali ke Cikole minggu depannya untuk Testride United-Specialized sekaligus ikut lomba DH Hardtails On Tjikole alias HOT. Testride nya ngga puas soalnya ngga boleh dicobain di trek DH beneran. HOT ikut cuma jadi penggembira sekalian pengen tahu berapa sih personal time buat trek Cikole-3. Pas seeding dapet waktu 4.25, lumayan lah dengan jatuh sekali. Nah besoknya pas final, ujaaannnn!! Trek Cikole-3 berubah jadi sungai dan kubangan! Waktu tambah melorot lagi ke 5.14, tapi puas maennya, hehehe..! :mrgreen:

Nah, dalam waktu dekat sih rencananya bakal sepedaan ke Jakarta sekalian bareng pas liburan semester. Tapi sebelum itu, waktunya UAS dulu, jadi ngeblog nya bakal hiatus lagi deh… πŸ˜›




berapa orang sih yang hadir?

tracker

Parameter eksistensi kah?

  • 110,883 hits