29
Okt
07

Kata ibu saya..

ada tiga tipe orang dalam menyelesaikan ujian, tes atau apapun lah namanya itu.

Pertama, orang yang menyelesaikannya dengan cepat. Mereka ini adalah yang mengerti dan memang bisa mengerjakannya. Kedua, adalah mereka yang selesainya lama. Adalah mereka yang setengah-setengah belajarnya, sehingga tidak terlalu mengerti. Ketiga, segelintir yang selesainya cepat sekali!! Apakah mereka yang paling mengerti? Salah ye, mereka itu yang paling ngga ngerti.

Tidak ada masalah dengan tipe pertama dan kedua. Terus kenapa dengan yang ketiga? Bukankah harusnya segelintir itu yang paling lama selesainya? Hmm, menurut saya mungkin karena mereka sadar bahwa mereka benar-benar tidak bisa. Mau nunggu sampai jenggotan ya tetep ngga bisa. So.. daripada diem aja di ruang kelas misalnya, nungguin waktu ujian habis, mending langsung cabut kan?

Pertanyaannya, saya tipe yang mana? Hoo, tipe kedua jarang. Seringnya tipe pertama dan ketiga jadi satu. Soalnya seringkali saya tidak sempat mendalami sebagian bahan yang diujiankan. *kebiasaan yang buruk* Tapi kalo udah dibaca, biasanya sih bisa.

Jadi, saya akan mengerjakan semua soal yang saya bisa dengan cepat dan sering kali tidak teliti. Setelah selesai, maka saya akan segera beberes dan keluar dari ruang ujian kalau diizinkan. Kenapa? Bukankah masih sempat untuk.. ya siapa tau tiba-tiba bisa gitu ngerjain soal yang ga bisa, dapat ilham or apapun lah itu namanya?

Sederhananya, karena saya mengerti sebagian, saya bisa memperkirakan sesulit apa soal yang tidak bisa saya kerjakan. Dan saya mengerti kemampuan saya. Kalau memang tidak bisa, mengapa dipaksakan? Iya, kasusnya tentu saja akan berbeda bila ujian belum dimulai dan masih sempat belajar, tapi kita ngga ngomongin itu disini. Ujian sudah berjalan dan kita hanya bisa melakukan apa yang sanggup kita lakukan. Nyontek? Heh, ogah.

Terus, kalau memang tidak bisa ngerjain, kenapa ngga menunggu dengan tenang di dalam kelas dan menunggu waktu selesai? Lho, kan bisa dipakai buat ngerjain yang lain?!?! Kenapa tidak? Lagipula, bisa sedikit ngasih teror juga sih buat yang masih pada belum selesai, pikir mereka “gila, gw masih banyak yang belum kelar, kok dia udah selesai sih?”😈 . But seriously, itu hanya karena mereka tidak tau kalo itu tipe tiga yang sedang berjalan keluar ruang ujian.

Nah, tapi apakah aku puas dengan menjadi sebagian tipe satu dan sebagian tipe tiga? Ga mungkin kan terus-terusan jadi tipe ketiga. Gila aja, kapan gw nikah lulus gini caranya? Oke, so what can we do? Hmmm, sederhana, salah satunya, jangan ngeblog dan sempet-sempetnya bikin post sementara besok dua UTS menunggu.:mrgreen:


25 Responses to “Kata ibu saya..”


  1. Oktober 29, 2007 pukul 9:20 pm

    dan tentu saja ngga nulis komen buat diri sendiri sementara belum ada komen yang perlu direspon.😛

  2. Oktober 30, 2007 pukul 4:20 pm

    Bener itu ibunya yang ngomong?
    Pas mid tadi, saya bengong 10 menit krn gak tau lagi mo jawab apa. Tapi males keluar duluan, soale pengawasnya dosen PA saya, nanti diinterogasi lagi:mrgreen: (tipe tiga yang malu2 kucing)😆

  3. Oktober 30, 2007 pukul 4:30 pm

    bener itu ibu saya yang ngomong tentang tiga macam itu:mrgreen:

    Desti nih ud lama ngga main, makasih yah udah main ke tempat saya lagi. *rifu, kamu tuh yang lama ngga ada post baru*:mrgreen:

  4. Oktober 30, 2007 pukul 8:57 pm

    Wah Ibu yang baik
    Kalau saya kayaknya nggak ketiga-tiganya
    Kalau dipaksa juga sih mungkin gabungan satu dan dua
    Selesai cepat tetapi yang paling lama selesainya
    Ya saat ujian biasanya otak saya entah mengapa tersetting khusus
    he he he jadi enak buat mikir gitu, so ya saya lebih suka mengkhayal nggak karuan menyusuri relung pikiran dan macam-macamlah sambil menunggu waktu selesai
    Ya gak terlalu beda dengan yang lain kelihatannya😀
    *jangan memprovokasi saudaramu yang sedang ujian*

  5. Oktober 30, 2007 pukul 10:01 pm

    walahhhhh semester satu sayah tipe pertama semester dua sayah tipe tiga😆

  6. Oktober 31, 2007 pukul 12:09 pm

    @Bharma
    provokasi? ah, ngga kok, hanya iseng memberi latihan teror mental. *bukannya itu lebih parah?*:mrgreen:

    @almas
    waw, kok bisa drastis gitu?

  7. Oktober 31, 2007 pukul 12:51 pm

    hmm…
    gw tipe ke….
    *bersambung

  8. Oktober 31, 2007 pukul 1:06 pm

    hobi bikin penasaran yah?:mrgreen:

  9. November 1, 2007 pukul 5:57 pm

    bener2 hobi bikin penasaran ternyata…😐
    😛

  10. November 1, 2007 pukul 9:36 pm

    *sambil bayangin ujian waktu kuliah dulu*

    kayaknya tipe 1 dan 3 yang lebih sering.

    kalau lagi belajar dan keluar ujian, bisa dengan cepat keluar ujian sambil melangkah penuh kesombongan meninggalkan yang lain sambil dalam hati berkata, “makanya belajar dong..!!”:mrgreen:

    kalau lagi nggak belajar dan bengong waktu ujian, secepat mungkin meninggalkan ruang ujian dengan jawaban apa adanya, meninggalkan yang lain yang masih sibuk, sambil dalam hati berkata, “kayaknya banyak yang nggak bisa tapi sok mikir”😆

    hehehehe…nostalgila masa kuliah…

  11. November 1, 2007 pukul 10:32 pm

    emang kebanyakan tipe satu dan tipe tiga yah?

    sebentar, kalo kebetulan belajarnya lagi setengah2 gimana kang fertob?

  12. 13 hoek
    November 2, 2007 pukul 2:50 pm

    ooohh..balada mid semester yah? *ngliad tanggalan*
    mhuehuehuehue
    “Mau nunggu sampai jenggotan ya tetep ngga bisa. So.. daripada diem aja di ruang kelas misalnya, nungguin waktu ujian habis, mending langsung cabut kan?”
    ah…frinsif sejadi seorang tongkrongers kantin sejadi!
    cabudna ya ke kantin…ngrokok, ngrobol, n ckakakakan….MHUAHUAHUAHUA

  13. November 2, 2007 pukul 4:05 pm

    hehe, sebenernya aku sudah jenggotan lho..😛

    dan emang sih abis keluar ruang ujian, aku nyari makan. tp ngga ngroko dan ngga ada barengan buat ngobrol.

    makasih ud komen:mrgreen:

  14. November 2, 2007 pukul 4:48 pm

    Hmm, gak ingat masuk tipe mana. Campur aduk.:mrgreen:
    Met ujian, Rifu. Ganbatte ne ^^

  15. November 2, 2007 pukul 7:56 pm

    telat, UTS terakhir tadi pagi…😛

    sudah lama nih tidak bersua Mbak Hiruta..😀

  16. November 3, 2007 pukul 3:11 pm

    Ah ujian sebenarnya belum selesai kan
    belum selesai sampai kita mati

    *atau mungkin sampai nikah, wah ini ujian afa ya*
    Alah saya OOT yak

  17. November 3, 2007 pukul 6:14 pm

    UTS sem 1 2007-2008 yang udah selesai Bharma😀

    kalo “ujian” mah selalu datang sampai kita mati:mrgreen:

  18. November 3, 2007 pukul 7:38 pm

    hm, makanya rifu, camkan kata mamah mu ya…
    taatilah dia
    jadi anak baik..
    lha..ga nyambung ya?

  19. November 4, 2007 pukul 4:59 am

    yang dikatakan ibu saya itu kan deskripsi, bukan persuasi:mrgreen:

    tapi, makasih atas doanya😀

  20. November 5, 2007 pukul 1:14 pm

    Saya paling dak suka jadi tipe dua tuh… Bosan…

  21. November 5, 2007 pukul 7:01 pm

    iya, kalo guru pinter kayak Mas Suandana pasti jadi tipe satu terus
    *ad hominem, ups..*:mrgreen:

  22. Januari 4, 2008 pukul 10:42 am

    salam hormat buat ibunya, yang punya ide tentang tiga cara menjalani ujian…

    Selamat Tahun Baru 2008 buat anaknya ibu itu hehehe…

  23. Januari 24, 2008 pukul 12:37 pm

    Kalau Mbak… type apa🙂 …


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


berapa orang sih yang hadir?

tracker

Parameter eksistensi kah?

  • 93,182 hits

%d blogger menyukai ini: