05
Jun
07

berawal dari canda…

Masalah ini berawal dari sini, komen #70 s.d. komen #89 pada saat post ini dibuat. Jadi teringat, saya, bersama seorang teman, pernah menulis artikel di rubrik “Jalan Terang”, buletin jumat “Kronika”, edisi 29 September 2006.

 

——————————–
Canda dan Prasangka

 

Siapa di antara kita yang tak pernah bercanda? Setidaknya pernah kan walaupun sesekali. Kebanyakan diantara kita pasti sebenarnya sering melakukannya, cuma tidak banyak teman-teman kita yang lain yang pernah melihat kita bercanda. Canda pun telah menjadi sarana mempererat persaudaraan karena perasaan gembira yang ditimbulkannya. Canda sudah menjadi hal yang lumrah pada manusia.

 

Tak ada yang melarang bercanda, bahkan Rasulullah SAW pun pernah melakukannya. Rasulullah, jika bercanda selalu dengan tujuan untuk menghibur, mempererat hubungan silaturahmi, dan menyenangkan hati orang lain. Candaan Rasulullah SAW lebih berbobot, berdaya nalar dan benar.

 

Pernah suatu ketika seorang sahabat menanyakan dengan apa Rasulullah akan pergi ke suatu tempat. Lalu beliau menjawab, ”Dengan menunggang anak unta.” Mendengar jawaban Rasulullah SAW tersebut, sahabat itu malah heran dan terbesit dalam pikirannya bahwa mana mungkin beliau menaiki seekor anak unta. Lalu sahabat tersebut bertanya kembali, “Wahai Rasulullah SAW, mengapa engkau menaiki anak unta?”

 

Sambil tersenyum, Rasulullah pun menjawab “Bukankah induk unta adalah juga anak dari unta?” Dan sahabat pun akhirnya tersenyum juga. Namun canda yang sering kita temui sekarang tidaklah selalu berakibat baik. Berikut adalah pengalaman saya dengan suatu canda yang kurang “pas”.

 

Aktivitas saya di beberapa unit Salman tidak dapat dipungkiri menyebabkan saya harus berinteraksi dengan teman-teman lawan jenis. Kadang timbul masalah antara saya dengan mereka. Sehingga pengklarifikasian masalah untuk menghindari adanya salah paham adalah hal biasa.

 

Suatu ketika, saat saya sedang mengklarifikasi suatu masalah dengan akhwat A via telpon, ada akhwat B yang men-cie-cie-kan akhwat A yang sedang berbicara dengan saya. Setelah itu, saya bertanya, maksud cie-cie yang tadi itu apa? Karena sepengetahuan saya, kata-kata itu dipakai biasanya ketika ada orang sedang pacaran atau pedekate atau sedang mempercandakan dua orang lain seolah-olah ada hal-hal berkaitan dengan hubungan lawan jenis pada dua orang lain itu.

 

Belakangan, akhwat B yang berkata cie-cie mengklarifikasi bahwa hal yang waktu itu tidak ada maksud apa-apa. Adalah maklum bila sesama akhwat saling bercanda, bila dalam hal ini ada ikhwan yang mendengar, toh itu juga dengan saya yang sudah mengenal akhwat B tersebut sebelum saya kenal akhwat A. Sudah kenal dan maklum gitu, jadi nyantai aja.

 

Waktu itu, saya menanggapi kalau bercanda itu normal tapi kan kalo bercanda kaya gitu dan didengar orang lain yang tidak memakluminya serta berprasangka yang aneh-aneh, gimana coba? Ada potensi jadi fitnah kan? Saya juga pernah mengalami kejadian serupa dahulu (yap, ini bukan pertama kalinya terjadi pada saya) dan hal yang sama juga saya bilang ke akhwat yang waktu itu juga lagi bercanda.

 

Jadi intinya, bercanda itu normal, apalagi sama orang yang sudah dikenal. Masalahnya kan pada prasangka orang lain yang belum kenal kita. Kan bisa dikira yang aneh-aneh? “Masak aktivis ********?” Ato kalo bukan pada prasangka orang lain, bagaimana dengan yang bersangkutan? Iya kalo nyantai-nyantai aja dan dianggap angin lalu. Kalo tersimpan dalam hati dan dikipasin ama setan gimana? Nah lho..!

 

Kesimpulannya? Bercanda ok, tapi dimana dan kapannya itu harus diperhatikan. Karena berkata yang baik dan benar terkadang sulit untuk dilakukan. Apalagi jika ingin dikemas dengan sebuah candaan. Maka perlu sikap yang lebih hati-hati dan kesadaran yang penuh. Sebuah pepatah mengatakan, “Lebih baik menyesal karena tidak mengatakan sesuatu daripada menyesal karena telah mengatakan sesuatu.”

 

Kan sayang kalo bercanda yang niatnya bercanda bagus-bagus buat mempererat rasa ukhuwah malah menjadi biang timbulnya hal-hal seperti prasangka yang malah bikin setan senang. Jadi sia-sia tuh! Padahal Rasulullah SAW bersabda, “Di antara tanda-tanda keislaman seseorang itu baik adalah ketika ia mampu meninggalkan hal-hal yang sia-sia bagi dirinya.”
——————————–

 

Meski memang sih, waktu itu saya dikomentarin sama seorang akang di unit sebagai “nggak dewasa, hal gitu kok dibahas”.

 

Belakangan, sikap saya terhadap canda-tipe-itu memang melunak. Kita sudah sama-sama tahu lah (bahwa itu memang sekadar bercanda) istilahnya. Saya mulai menerima, bahkan berpartisipasi dalam canda-tipe-itu. Yang penting kan tidak serius, itu apa yang ada di kepala saya, lha wong namanya aja canda kok.

 

Sampai akhirnya terjadilah masalah diatas. Sampai diem-dieman segala. Berangkat dari rasa tidak-ingin-ada-yang-disakiti. Saya memilih untuk memuat artikel diatas, untuk mengingatkan saya lagi bahwa, meski keluhan-keluhan seperti ini terkesan ngga dewasa, canda-tipe-itu memang belum saatnya.

 

Kepada teman-teman, semoga hal ini menjadi pembelajaran buat saya. Maaf dan terima kasih.

 

Wassalamu ‘alaikum.


19 Responses to “berawal dari canda…”


  1. Juni 5, 2007 pukul 3:39 pm

    Who ho ho… llink nya ke rumah saya ternyata!

    Setuju! Bercanda itu ada walaupun namanya canda, enggak serius, iseng atau apalah, tetap perlu diperhatikan waktu dan keadaannya…

    Sip deh, Rifu udah “sadar”:mrgreen:

  2. Juni 5, 2007 pukul 3:40 pm

    Hufff.. itu pertamax!!😉

    ^ ga penting ^

  3. Juni 6, 2007 pukul 12:03 am

    i.. iya.. Mba JePe… su.. sudah sadar…
    *setelah dimarahin JePe*

    Hufff.. itu pertamax!!

    ^ ga penting ^

    ini bukan blog seleb Mba.
    *padahal berharap tuuuhhh!!*

  4. Juni 6, 2007 pukul 12:07 am

    Aduh aku tukang bercanda banget neeh, gimane yaa…. abis aku maah pusing klo serius melulu…jd ga kreatip gitu…bawaaannya booring… ya udah deh abis ini liat2 kekekkek tapi biasanya klo ngomong ama org yg serius mulu, gue tinggalin akhirnya ga tahaaaann….

  5. Juni 6, 2007 pukul 12:51 am

    waaaahhhh, ibu dokter kita…!! selamat datang di blog saya Bu..!! *senyumlebar*

    ya, kembali ke niat awal sih sebenernya. mau becanda atau mau serius? konsisten aja lah, atau kalau mau becanda setelah serius, ya seriusnya diakhiri dulu.
    *baca do’a tutup majelis dulu, hahaha*

    atau… emang pengen sekalian aja, serius yang becandaan dan becandaan yang serius?

  6. Juni 6, 2007 pukul 1:42 am

    Halah..paling juga Rifu senang kalau di-cie-cie😀

    Belakangan, sikap saya terhadap canda-tipe-itu memang melunak

    Kayaknya gak cuma melunak tuch..sampai encer dan meluber hehehe…
    Permisi NAK..saya pulang dulu😀

  7. Juni 6, 2007 pukul 5:43 am

    apaan? kok dari #70, sih? nggak salah, tuh?

    *baca sambil kunyah-kunyah*

    hmm. ternyata Rifu itu sebenarnya baik, ya…

    btw, ‘bercanda’ di sini termasuk berhubungan dengan ‘ngegosip’ nggak?

    …soalnya kalau iya, katanya gosip itu dekat dengan ghibah! gosip itu perbuatan laghwun! sia-sia! pokoknya™ gak boleh! jangan dikerjain!

    …yah, pokoknya gitu deh😉

    btw, Rifu jadi rajin nulis sekarang?

  8. Juni 6, 2007 pukul 6:11 am

    iya tuh Rifu,, tobat,, tobat,,

    *tipe manusia ga sadar diri,, *😛

    Saya memilih untuk memuat artikel diatas, untuk mengingatkan saya lagi bahwa, meski keluhan-keluhan seperti ini terkesan ngga dewasa, canda-tipe-itu memang belum saatnya.

    Iya,, iya,, iya,,

  9. Juni 6, 2007 pukul 6:24 am

    hooo…ko saya nagkapnya rifu kesannya lagi marah ma seseorg krn udh mbcandain rifu sih???
    @@@ yud1 :…soalnya kalau iya, katanya gosip itu dekat dengan ghibah! gosip itu perbuatan laghwun! sia-sia! pokoknya™ gak boleh! jangan dikerjain!

    btw, saya hobi nggosip nih,,,*kesindir*..
    maklumlah fu,,,fitrah wanita,,hehe,,asal ga nggosip yg ga bener ajah…*emng ada ya gosipp yg bener?*🙂

  10. Juni 6, 2007 pukul 8:30 am

    Hati-hati kalau bercanda, memang.🙂

    Bisa-bisa kesinggung sedikit langsung adu jotos atawa jambak-jambakan rambut.:mrgreen:

  11. Juni 7, 2007 pukul 10:42 am

    @PAK deking

    Halah..paling juga Rifu senang kalau di-cie-cie

    Hihihi, tergantung juga PAK, di-cie-cie-in sama siapa dulu..

    @yud1

    apaan? kok dari #70, sih? nggak salah, tuh?

    yaaaahhh, saya sih mengamatinya seperti itu.

    *baca sambil kunyah-kunyah*

    kunyah-kunyah apa?

    hmm. ternyata Rifu itu sebenarnya baik, ya…

    ooo, gitu yaaaa? baru sadar nih setelah dua tahun sekelas di sma?

    btw, ‘bercanda’ di sini termasuk berhubungan dengan ‘ngegosip’ nggak?

    definisikan dulu saja!! yud1 kan hobi mendefinisikan, hehehe…

    …soalnya kalau iya, katanya gosip itu dekat dengan ghibah! gosip itu perbuatan laghwun! sia-sia! pokoknya™ gak boleh! jangan dikerjain!

    setuju.

    btw, Rifu jadi rajin nulis sekarang?

    ahaha~, ngga kok, cuma ngepost tulisan-tulisan yang udah pernah dibuat saja.

    @9race
    yaaaa, dulu agak gimana juga sih, tapi karena langsung diklarifikasikan, ya ga ada masalah lagi. *temen saya yang bantuin saya bikin tulisan di atas itu, in fact, dia yang cie-cie-in saya lho*
    ya, jangan sering2 saja lah, kalau bisa gosip yang positif, hal-hal yang baik, gitu..

    @Master Li
    Hwaduh.. jangan sampe deh…

  12. 12 Novi
    Juni 8, 2007 pukul 12:39 am

    hallo… hallo para komentator, bagaimana menurut pendapat Anda tentang akhawat yang mencie-cie tersebut ?

  13. Juni 8, 2007 pukul 2:04 am

    ah, Teh Novi, bilang aja “bagaimana pendapat anda tentang saya?”, ga usah malu-malu.. hihihi..

    @Ma
    semoga jadi pelajaran yah, buat saya juga.
    *maap, komennya ketangkep akismet*

  14. 14 Novi
    Juni 8, 2007 pukul 5:09 am

    dasar Rifu… ga seru! blm mengerti betul.. gagal deh rencana sy..

  15. Juni 8, 2007 pukul 6:32 am

    belum mengerti betul? belum mengerti apa?
    eh eh eh, rencana apa nih?

  16. 16 noviaaa
    Juni 14, 2007 pukul 2:43 am

    knp yah, kadang2 kata2 sy sulit dimengerti org?

  17. Agustus 15, 2007 pukul 10:29 am

    dijelaskan lebih lanjut lah, biar bisa dimengerti:mrgreen:

  18. November 3, 2007 pukul 10:04 am

    Pernah baca satu pepatah,
    ‘janganlah berbohong,berbohong itu tidak baik.Hindarilah berbohong,walau itu adalah canda’
    jadi,kayanya kalopun becanda,becandanya mesti bener(kalo gak dibilang canda serius).Bagaimanapun juga,canda keluar sebagai hasil karya lisan yang akan dipertanggungjawabkan😉.
    Hindari canda ambigu,kecuali kalo niatnya emang mu bikin orang lain berprasangka,keep on wondering :p.
    Selamat mencari seni becanda,art of kidding,seni menjadi anak kecil,hehehe.
    Blognya bagus,enak dibaca🙂.

  19. November 3, 2007 pukul 6:26 pm

    nah, kalau dari awal sudah menyatakan bahwa itu bercanda gimana? sehingga yang jadi korban becandaan setidaknya bisa memahami dengan perspektif bercanda dan mengurangi kemungkinan salah paham seperti yang saya ceritakan di artikel.

    sekarang sih, kalau saya mau bercanda yang berpotensi bikin fitnah gosip, saya pasti bakal bilang kalo itu bercanda, atau setidaknya bahwa itu gosip.

    bagus? waw, jadi melambung nih, hehe. tapi kalo boleh jujur, mungkin beberapa artikel memang akan terasa lebih enak dibaca karena sudah melalui copy-editing (oleh editor berpengalaman yang bukan saya) terlebih dahulu.

    terima kasih yah sudah meninggalkan komen. nyampe blogwalking ke sini dari mana yah? *hanya ingin tahu*

    salam kenal, mau tukeran link?:mrgreen:


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


berapa orang sih yang hadir?

tracker

Parameter eksistensi kah?

  • 93,182 hits

%d blogger menyukai ini: