Arsip untuk Juni, 2007

26
Jun
07

maap… maap…

kepada teman-teman yang sudah menunggu-nunggu update-an blog ini *lirik sini dan lirik situ* dan kepada teman-teman yang udah baik banget mau komentar baik di post-post sebelumnya maupun di halaman OOT, saya minta maaf karena untuk beberapa waktu ke depan, saya akan sibuk dengan bikin proposal penelitian.

halah, rifu, sok seleb blog kamu!!

hei, bukan itu maksud saya! seperti yang saya tangkap setelah membaca ini, blog sebagai sarana bersosialisasi tentu membutuhkan perhatian tersendiri dari si pemilik blog agar blognya nyaman dikunjungi. dalam bentuk seperti post yang informatif dan tentu saja respon terhadap komentar yang masuk. jadi, atas tidak adanya post baru dan kurangnya respon dari saya terhadap komentar yang masuk, pantas dong kalo saya minta maaf?

anyway, tentang lomba penelitian itu, dibawah adalah sedikit dari apa yang saya temukan di “diary” saya tentang keikutsertaan saya yang pertama kali di lomba penelitian yang sama, tahun 2006 lalu.

———-

sekre aksara, 2006-04-24

    jadi ini tulisan pertama yang saya buat karena permintaan dari seorang “senior” untuk membiasakan saya untuk menulis. tulisan ini sebenarnya diharapkan sebanyak mungkin, tapi kalo bertahap gapapa kan teh?

    ok, saya cerita aja. senin yang lalu, 17 april 2006 merupakan hari pengumuman proposal penelitian yang diterima untuk didanai oleh itb dan mengikuti tahap selanjutnya dari lomba penelitian tersebut. hari yang lumayan saya tunggu-tunggu. ya, sebenernya ga ditunggu-tunggu amat sih.

    paginya, saya sempatkan pergi ke lpkm untuk menemui si bapak yang memang mengurusi masalah-masalah yang berkaitan dengan lomba-lomba kemahasiswaan. kata si bapak, sebenarnya data dari juri sudah sampai, namun belum sempat diolah sehingga belum dapat diumumkan. si bapak kemudian menjanjikan pengumuman akan keluar pada selasa, kalau tidak selasa maka rabu.

    selasa sore, setelah seharian tidur gara-gara “sakit gak jelas”, saya pergi ke salman untuk meminjam charger hape, maklum lobet. ketika hendak mencolokkan kabel charger ke hape, saya mendapati beberapa sms masuk. salah satunya dari teman satu kelompok penelitian, hegar, farmasi 2005.

    beritanya, alhamdulillah proposal diterima. reaksi pertama saya, tersenyum ga percaya. sore itu saya langsung pergi ke lpkm. yap, saya mendapati judul penelitian saya terpampang sebagai satu dari tujuh belas judul penelitian yang diterima. yaah, meski nama saya ketulisnya salah, areif nugroho, bisa dipastikan itu memang judul penelitian tim saya.

    selain judul dari tim saya, saya juga mendapati beberapa judul penelitian yang diusulkan teman-teman saya. satu dari kimia dengan tema yang tidak begitu berbeda dengan saya, energi alternatif. seorang teman dari unit salman dengan tema lingkungan hidup dan satu lagi dari biologi dengan tema lain-lain yang berhubungan dengan ipteks.

    setelah menyempatkan membaca seluruh isi pengumuman yang terpampang, reaksi kedua saya adalah heran. iya, heran. lha itu proposal bikinnya mepet deadline dan seadanya, kok ya bisa keterima? udah gitu, kayaknya kalau dibandingkan dengan teman-teman lain yang juga ikut mengumpulkan, punya tim saya tuh paling tipis. total halaman isi, tanpa lampiran, halaman judul dan pengesahan hanya tujuh halaman.

    sebelum mengumpulkan, saya menyempatkan bertanya ke salah seorang teman yang ikut mengumpulkan proposal tentang jumlah halaman. jawabnya, “dikit kok, cuma dua puluh satu halaman”. dalam hati saya nyeletuk, 21 dikit, gimana 7? yah, gapapa lah, saya menanggapi celetukan saya sendiri, siapa tahu karena sedikit malah dianggap simpel dan padat? pokoknya proposal itu jadi saya kumpulin seadanya. yang penting ga telat deadline ngumpulin lah. kan lumayan dapet dua ratus ribu (ITB memberikan jumlah sekian untuk setiap proposal yang masuk sebagai ganti biaya cetak atau fotokopi).

    keheranan saya, dan teman satu tim saya yang ternyata juga heran, bertahan beberapa hari. untuk menghilangkan keheranan saya, saya mencoba mencari tahu komentar juri tentang proposal tim saya. saya baru sempat bertanya ke si bapak yang mengurusi masalah-masalah yang berkaitan dengan lomba-lomba kemahasiswaan lagi hari ini, senin 2006 april 24, setelah selesai kuliah.

    ketika saya membaca komentar juri tersebut … gruduk-gruduk, apa itu? seseorang jatuh dari tangga? aku menyempatkan melihat, tapi ternyata yang bersangkutan tidak apa-apa. bagus lah … keheranan saya pun mulai bisa dipahami.

    komentar juri, pustaka kurang tapi gagasan dan sistematika sudah baik, rumusan masalah dan tujuan jelas, metodologi sesuai dan sistematis. wow. kalo masalah pustaka memang sih tim saya cuma mencantumkan satu judul di daftar pustaka (sebenarnya yang satu itu lebih dari cukup, sangat komprehensif, lha wong tebelnya aja 300an halaman, semua tentang topik yang saya ajukan di proposal).

    kalo ngeliat dari komentar juri, tebal tipis tampaknya tidak terlalu menjadi masalah. dan untuk yang “dipuji-puji ama juri” itu, well, what can i say, semuanya itu kan hasil penjabaran dari konsultansi ama dosen pembimbing tim saya. setelah heran, sekarang saya bingung, ada waktu buat ngerjain tuh penelitian gak ya?

———-

 

hihihi, maap ya kalo pusing bacanya, cuma kopipaste dari notepad sih :mrgreen:

sedikit catatan, lomba penelitian seperti ini nih yang bikin saya lebih enjoy kuliah. ketika materi perkuliahan gak cuma sekedar materi yang setelah diujiankan kemudian dilupakan. salah satu dari bagian-bagian yang bikin kuliah enak, seperti yang saya sebutkan di sini, kalimat terakhir pada paragraf kedua dari bawah.

berita resmi tentang lomba penelitian bisa dilihat di sini.

11
Jun
07

another poem?

Kau nyata

Aku berkelit

Aku ada

Kau jengah

Kau ada

Aku mau

Aku nyata

Kau… tak mau kah?

originally written on 2007-06-07.

05
Jun
07

berawal dari canda…

Masalah ini berawal dari sini, komen #70 s.d. komen #89 pada saat post ini dibuat. Jadi teringat, saya, bersama seorang teman, pernah menulis artikel di rubrik “Jalan Terang”, buletin jumat “Kronika”, edisi 29 September 2006.

 

——————————–
Canda dan Prasangka

 

Siapa di antara kita yang tak pernah bercanda? Setidaknya pernah kan walaupun sesekali. Kebanyakan diantara kita pasti sebenarnya sering melakukannya, cuma tidak banyak teman-teman kita yang lain yang pernah melihat kita bercanda. Canda pun telah menjadi sarana mempererat persaudaraan karena perasaan gembira yang ditimbulkannya. Canda sudah menjadi hal yang lumrah pada manusia.

 

Tak ada yang melarang bercanda, bahkan Rasulullah SAW pun pernah melakukannya. Rasulullah, jika bercanda selalu dengan tujuan untuk menghibur, mempererat hubungan silaturahmi, dan menyenangkan hati orang lain. Candaan Rasulullah SAW lebih berbobot, berdaya nalar dan benar.

 

Pernah suatu ketika seorang sahabat menanyakan dengan apa Rasulullah akan pergi ke suatu tempat. Lalu beliau menjawab, ”Dengan menunggang anak unta.” Mendengar jawaban Rasulullah SAW tersebut, sahabat itu malah heran dan terbesit dalam pikirannya bahwa mana mungkin beliau menaiki seekor anak unta. Lalu sahabat tersebut bertanya kembali, “Wahai Rasulullah SAW, mengapa engkau menaiki anak unta?”

 

Sambil tersenyum, Rasulullah pun menjawab “Bukankah induk unta adalah juga anak dari unta?” Dan sahabat pun akhirnya tersenyum juga. Namun canda yang sering kita temui sekarang tidaklah selalu berakibat baik. Berikut adalah pengalaman saya dengan suatu canda yang kurang “pas”.

 

Aktivitas saya di beberapa unit Salman tidak dapat dipungkiri menyebabkan saya harus berinteraksi dengan teman-teman lawan jenis. Kadang timbul masalah antara saya dengan mereka. Sehingga pengklarifikasian masalah untuk menghindari adanya salah paham adalah hal biasa.

 

Suatu ketika, saat saya sedang mengklarifikasi suatu masalah dengan akhwat A via telpon, ada akhwat B yang men-cie-cie-kan akhwat A yang sedang berbicara dengan saya. Setelah itu, saya bertanya, maksud cie-cie yang tadi itu apa? Karena sepengetahuan saya, kata-kata itu dipakai biasanya ketika ada orang sedang pacaran atau pedekate atau sedang mempercandakan dua orang lain seolah-olah ada hal-hal berkaitan dengan hubungan lawan jenis pada dua orang lain itu.

 

Belakangan, akhwat B yang berkata cie-cie mengklarifikasi bahwa hal yang waktu itu tidak ada maksud apa-apa. Adalah maklum bila sesama akhwat saling bercanda, bila dalam hal ini ada ikhwan yang mendengar, toh itu juga dengan saya yang sudah mengenal akhwat B tersebut sebelum saya kenal akhwat A. Sudah kenal dan maklum gitu, jadi nyantai aja.

 

Waktu itu, saya menanggapi kalau bercanda itu normal tapi kan kalo bercanda kaya gitu dan didengar orang lain yang tidak memakluminya serta berprasangka yang aneh-aneh, gimana coba? Ada potensi jadi fitnah kan? Saya juga pernah mengalami kejadian serupa dahulu (yap, ini bukan pertama kalinya terjadi pada saya) dan hal yang sama juga saya bilang ke akhwat yang waktu itu juga lagi bercanda.

 

Jadi intinya, bercanda itu normal, apalagi sama orang yang sudah dikenal. Masalahnya kan pada prasangka orang lain yang belum kenal kita. Kan bisa dikira yang aneh-aneh? “Masak aktivis ********?” Ato kalo bukan pada prasangka orang lain, bagaimana dengan yang bersangkutan? Iya kalo nyantai-nyantai aja dan dianggap angin lalu. Kalo tersimpan dalam hati dan dikipasin ama setan gimana? Nah lho..!

 

Kesimpulannya? Bercanda ok, tapi dimana dan kapannya itu harus diperhatikan. Karena berkata yang baik dan benar terkadang sulit untuk dilakukan. Apalagi jika ingin dikemas dengan sebuah candaan. Maka perlu sikap yang lebih hati-hati dan kesadaran yang penuh. Sebuah pepatah mengatakan, “Lebih baik menyesal karena tidak mengatakan sesuatu daripada menyesal karena telah mengatakan sesuatu.”

 

Kan sayang kalo bercanda yang niatnya bercanda bagus-bagus buat mempererat rasa ukhuwah malah menjadi biang timbulnya hal-hal seperti prasangka yang malah bikin setan senang. Jadi sia-sia tuh! Padahal Rasulullah SAW bersabda, “Di antara tanda-tanda keislaman seseorang itu baik adalah ketika ia mampu meninggalkan hal-hal yang sia-sia bagi dirinya.”
——————————–

 

Meski memang sih, waktu itu saya dikomentarin sama seorang akang di unit sebagai “nggak dewasa, hal gitu kok dibahas”.

 

Belakangan, sikap saya terhadap canda-tipe-itu memang melunak. Kita sudah sama-sama tahu lah (bahwa itu memang sekadar bercanda) istilahnya. Saya mulai menerima, bahkan berpartisipasi dalam canda-tipe-itu. Yang penting kan tidak serius, itu apa yang ada di kepala saya, lha wong namanya aja canda kok.

 

Sampai akhirnya terjadilah masalah diatas. Sampai diem-dieman segala. Berangkat dari rasa tidak-ingin-ada-yang-disakiti. Saya memilih untuk memuat artikel diatas, untuk mengingatkan saya lagi bahwa, meski keluhan-keluhan seperti ini terkesan ngga dewasa, canda-tipe-itu memang belum saatnya.

 

Kepada teman-teman, semoga hal ini menjadi pembelajaran buat saya. Maaf dan terima kasih.

 

Wassalamu ‘alaikum.

04
Jun
07

kenapa?

kenapa harus saya

kenapa harus aku

kenapa harus gw..

kenapa tidak engkau

kenapa tidak kamu

kenapa ngga lo aje..!?!?

yang harus jatuh cinta..




berapa orang sih yang hadir?

tracker

Parameter eksistensi kah?

  • 104,333 hits