Arsip untuk Mei, 2007

10
Mei
07

Pedoman Pindah Jurusan

Disini saya akan bercerita tentang mekanisme pindah jurusan yang telah saya alami. Tentu saja hal-hal yang akan diceritakan disini tidak dapat digunakan sebagai “manual” pindah jurusan secara umum namun hanya terbatas pada perguruan tinggi tempat saya belajar.


Sebelum kita beralih ke masalah teknis, ada beberapa hal yang harus kita pastikan terlebih dahulu. Pindah jurusan tidaklah mudah. Anda harus mempunyai motivasi yang sangat kuat. Pastikan anda tidak ingin pindah jurusan hanya karena merasa bosan atau ingin satu jurusan dengan pacar anda. Alasan anda pindah jurusan dan jurusan yang anda inginkan harus datang dari diri anda sendiri, karena mungkin bisa saja anda merasa ingin pindah dari jurusan awal anda karena merasa “dipilihkan” orang lain.


Pastikan juga bahwa anda tidak akan merasakan hal yang sama setelah pindah jurusan nanti (ingin pindah jurusan lagi). Berarti anda juga harus mulai mencari informasi tentang kehidupan kuliah di jurusan tujuan yang anda inginkan. Cobalah menyusup ke salah satu kelas. Cari informasi tentang kurikulumnya. Lebih bagus lagi kalau anda memang memiliki banyak teman di jurusan tujuan anda sehingga bisa bertanya-tanya lebih lanjut.

Setelah anda meyakinkan diri anda sendiri tentang alasan pindah jurusan anda dan jurusan tujuan anda, mari kita membicarakan hal-hal teknis. Ada beberapa prasyarat yang sebaiknya anda cermati, terutama terkait IP dan jurusan tujuan anda. Mitos bahwa IP anda haruslah diatas 3.0 untuk bisa pindah jurusan tidak selalu benar. Berdasarkan peraturan tahun 2006, IP anda dipastikan harus 3.0 hanya jika jurusan tujuan anda masih dalam satu kelompok keilmuan yang sama. Jika jurusan tujuan anda berada pada kelompok keilmuan yang berbeda, maka prasyarat IP bergantung pada jurusan tujuan anda. Ada jurusan yang meminta IP anda harus setidaknya 3.5. Ada jurusan yang akan mengadakan tes khusus lagi untuk anda (seperti jurusan-jurusan FSRD). Namun secara umum, biasanya sih cuma ada psikotes (yang menurut saya hanya untuk memastikan bahwa anda memang tidak goblog). Eh, o iya, anda juga harus sudah lulus TPB dan sudah satu tahun berada di jurusan awal anda (satu tahun TPB dan satu tahun di jurusan berarti anda hanya dapat pindah setelah tahun kedua anda).

Setelah anda yakin anda dapat pindah ke jurusan yang anda inginkan, sekarang anda bisa mulai menulis surat permohonan kepada wakil rektor senior bidang akademik, dekan dan kaprodi jurusan yang akan dituju serta dekan dan kaprodi jurusan yang akan ditinggalkan. Formatnya surat resmi, ditujukan kepada wakil rektor dengan CC pejabat-pejabat yang saya sebutkan diatas. Setelah anda mengirim surat, biasanya anda akan diminta untuk mengikuti psikotes atau tes-tes lain terkait jurusan tujuan anda. Hasil-hasil tes ini, beserta rekaman akademik anda selama TPB dan tahun kedua anda/tahun pertama anda di jurusan akan dipertimbangkan untuk menentukan apakah anda dapat pindah jurusan atau tidak, selain tentu saja “ketersediaan kursi” di jurusan tujuan anda.

Bila anda berhasil pindah jurusan, jangan senang dulu. Derita mahasiswa pindah jurusan menanti anda. Di kampus saya yang beberapa hal terkait kuliahnya sudah dicyberkan, seperti pembayaran SPP autodebet serta perwalian on-line, pindah jurusan yang berakibat bergantinya NIM anda akan berakibat tidak dapat digunakannya fasilitas-fasilitas tersebut (sebagian untuk sementara karena dapat segera diurus ke Direktorat Pendidikan, sebagian untuk selamanya karena malas diurus).


Itu baru masalah administratif. Karena anda akan mengikuti kurikulum jurusan tujuan anda setelah anda berhasil pindah jurusan, biasanya anda harus mengambil mata kuliah spesifik jurusan yang diberikan pada TPB (aneh ya, mata kuliah spesifik jurusan tapi dikasih pas TPB). Dalam kasus saya, saya harus mengambil biologi umum I pada semester ganjil dan biologi umum II pada semester genap. Kalau mata kuliah – mata kuliah ini memiliki sks kecil, tidak ada praktikumnya dan oleh karena itu kecil kemungkinannya bertabrakkan dengan mata kuliah lain sih tidak masalah. Yang jadi masalah kalau sks besar (empat sks) serta ada praktikumnya. Besar kemungkinan anda harus merombak total mata kuliah paket yang biasanya akan anda ambil. Lho, kenapa ga ambil sedikit aja dulu? Masalahnya, selama dua semester pertama anda di jurusan yang baru, anda harus mengambil sks minimal 18 per semester. Bisa-bisa anda harus mengambil mata kuliah lain yang sebenarnya tidak/belum boleh anda ambil, seperti mata kuliah – mata kuliah tingkat empat. Ya habis mau gimana lagi? tidak ada mata kuliah tersisa yang tidak bertabrakan.


Selain harus mengambil minimal 18 sks per semester, selama dua semester pertama di jurusan baru anda juga tidak boleh mendapat IP dibawah 2.5 atau salah satu mata kuliah mendapat D. Bila salah satu dari dua hal itu terjadi, maka anda harus mengucapkan selamat tinggal kepada teman-teman kuliah anda karena anda harus di-DO! Dan kalau anda tidak di DO sekarang karena hal-hal itu, berhati-hatilah karena waktu maksimal masa studi anda tetap lah enam tahun dihitung dari anda masuk ITB perguruan tinggi anda. Tidak masalah? Ingat bahwa anda masih harus mengambil mata kuliah ke tahun sebelumnya. Mungkin anda memperkirakan maksimal anda hanya akan kuliah selama lima tahun dari normalnya empat tahun, tapi karena hal tersebut mungkin anda harus menunggu sampai enam tahun. Injury time tuh!


Ok ok, kebanyakan dari hal-hal yang saya ceritakan barusan adalah bagian-bagian beratnya. Sekarang saya akan bercerita tentang bagian-bagian enaknya. Sekarang, andaikata anda ingin pindah jurusan karena memang itu adalah panggilan dari lubuk sanubari hati terdalam anda, maka tentu anda akan merasa lebih enjoy kan? Ah, cuma rasa enjoy doang! Eh, jangan salah sangka, perasaan bisa menikmati jalannya perkuliahan itu berkontribusi sangat besar lho bagi orang-orang seperti saya yang membutuhkan motivasi ekstra untuk mau tetap bangun selama perkuliahan untuk keberhasilan anda mengerti materi yang dikuliahkan. Walhasil, jangan kaget kalau IP anda di jurusan baru bisa melonjak sampai ratusan persen dari IP di jurusan asal (kalau tadinya IP anda memang jelek ya, kalau IP anda sudah bagus, maaf, IP maksimal yang mungkin itu cuma 4.0). Terus, kalau anda pindah ke jurusan yang banyak ceweknya… ng, yah bayangkan sendiri aja lah kinda harem protagonist gitu deh. Anda mungkin juga akan tertarik dengan subjek-subjek tertentu di jurusan baru anda dan kemudian berminat untuk melakukan penelitian di bidang tersebut. Terlalu cepat untuk mahasiswa? Tidak, sekarang banyak kok lomba penelitian tingkat mahasiswa yang uang penelitiannya sepenuhnya dari panitia.

Hm, apa lagi ya? Kok kayaknya masih banyak hal-hal yang memberatkan ya? Ah ya, saya tahu, hal-hal bagus kan memang tidak terasa. Datang tak bilang-bilang dan ketika pergi kita kehilangan. Sebagai pesan moral saja, anda sudah susah-susah masuk ke perguruan tinggi idaman anda, kemudian anda mungkin sudah berhasil pindah ke jurusan idaman anda, jadi syukuri. Jangan sampai anda ingin pindah jurusan lagi! Yah, bagaimanapun juga ga bisa sih, kan maksimal pindah jurusan hanya sekali. Ingat, syukuri, anda sudah mendapat kesempatan merasakan pendidikan tinggi yang tidak semua penduduk negeri ini merasakannya udah gitu pake lulus lama lagi, ngabisin subsidi negara aja. Buktikan bahwa anda pindah jurusan karena anda memang mampu, bukan karena anda tidak mampu!

Iklan
03
Mei
07

Rasa dan Inkonsistensi

Salah satu nilai yang saya junjung tinggi adalah kejujuran. Termasuk didalamnya adalah konsisten dengan apa yang ditulis dan dikatakan. Saya pun selalu berusaha untuk jujur (apakah saya orang suci? bukan, ingat, “selalu berusaha” belum tentu berhasil!).

Nah, salah satu ketidakberhasilan saya adalah, terkait dengan post sebelumnya, tentang rasa suka itu.. anda mungkin berpikir saya adalah seorang aktivis masjid yang berpendapat bahwa pokoknya yang namanya pacaran, hts, relationship before marriage atau apapun lah namanya itu zina/mendekati zina, dan bahwa melihat dari tulisan saya, pasti saya tidak akan pernah “terjerumus” ke hal2 tersebut. Itu belum tentu benar! Saya, asal anda tahu saja, sering nembak cewek!

Tuh, kelihatan kan ketidak konsistenan saya! Tapi, itu ada alasannya. Bukan, bukan sering nembaknya yang ada alasannya. Tapi alasan dari ketidakkonsistenan saya.

Sebagai manusia, iman (cailah.. iman!) kita sering naik turun. Sering kalah sama yang namanya nafsu. Ketika nafsu sudah melewati barrier-barrier awal, seperti: “woi, dia itu high quality akhwat, sedangkan kamu sendiri?” atau “emang kamu udah punya sesuatu yang bisa dibanggain, sesuatu yang bisa bikin dia tertarik ama kamu?” (zlleeebbbb… uhuk2 ga jelas), dan barrier terakhir (jreng jreng jreng, tidak salah dan tidak bukan, iman) sedang turun2nya…

Maka, dapat dibuktikan bahwa…

Eh, bukan.

Maka terjadilah itu, “saya suka ama kamu” (tidak, saya masih cukup “tahu diri” untuk tidak menanyakan kesediaannya, cuma saya tidak tahu ada dimana “diri saya” ketika saya menanyakan kesediaannya)

Tidak, ini bukan fakta, cuma sedikit sintesis dari beberapa kepingan berbeda sejarah saya.

Jadi, eh, ya jadi… apa hubungan ama inkonsistensi ama perasaan? Bahwa perasaan yang mungkin saya sedang rasakan itu, dengan berat hati saya, katakan, bisa jadi inkonsisten juga!




berapa orang sih yang hadir?

tracker

Parameter eksistensi kah?

  • 108,108 hits