Arsip untuk April, 2007

30
Apr
07

26 januari 2007, suatu sore di bioter

anak2004        : emang ip lo aslinya berapa?

gw                   : sekarang 3.22, semester kemaren 0.61

anak2005        : berapa kang? 2.61?

gw                   : bukan, 0.61

anak2005        : ga kebayang.. masa ilang niat sampai segitunya?

anak2004        : masalahnya, teknik kimia itu ga sama kaya biologi. di biologi kalo ga niat  asal masih bisa maksain buat ngerjain tugas dll segala macem setidaknya masih bisa lulus. tapi, kalo di tk, ga bisa kaya gitu. kalo ga ada niat, dipaksain juga ga akan ngerti.

anak2005        : tetep aja ga kebayang.. kang arief seorang muslim gitu lho, masa’ sampai segitunya hanya karena ilang niat.

dan obrolan berlanjut tentang betapa tidak produktifnya gw di tahun kedua gw di itb. Program divisi unit kegiatan yang ga jalan. Bisa tidur di ujian yang soalnya susah minta ampun. Keseringan maen game (VOS dan NFS terutama). 

Apa yang bisa kita ambil dari obrolan tersebut?

Pertama, buat yang belum tahu, gw seorang mahasiswa pindah jurusan dari teknik kimia ke mikrobiologi. Alasan gw pindah, yang paling gampang untuk dijelaskan, “gw ilang niat dan ga ngerti mata kuliah apa2, dan kalo ud ilang niat, ngulang berkali2 juga ga bakalan lulus dan akhirnya gw bakal do”. Jadi gw memutuskan untuk pindah jurusan ke bidang yang lebih gw minati, yaitu mikrobiologi.

Beberapa orang menganggap kalo pindah jurusan itu melarikan diri dan tidak mau berusaha menghadapi kesulitan. Tapi menurut gw (yang sudah dan sedang mengalami pindah jurusan), pindah jurusan itu bentuk perjuangan gw. Orang lain berjuang menemukan niatnya kembali dan mengerti apa yang susah dimengerti dari beragam mata-kuliah. Gw berjuang mengatasi betapa susahnya pindah jurusan itu.

Ngomong ke dosen wali yang respon pertamanya ketika gw menyatakan niat pindah jurusan adalah “kayaknya ga bisa deh, memangnya ip kamu berapa?”. Bolak balik ke dirdik, tu jurusan, konseling itb. Mempelajari aturan akademik (yang coba aja sembarang tanyain ke temen, “ud pernah baca aturan akademik?” dan probabilitas jawaban “ud pernah” mungkin kurang dari 0.1).

Ngurusin SPP yang ga bisa diautodebet karena NIM udah ganti. Bingung milih mata kuliah yang mana yang harus diambil karena harus ngambil mata kuliah kebawah dan malah tabrakan ama dua mata kuliah lain yang masing-masingnya empat sks.

Menghadapi resiko bahwa ternyata di jurusan tujuan mungkin lebih gak niat lagi. Menghadapi resiko do yang lebih besar (sebagai mahasiswa pindahan, gw menjalani masa uji coba selama dua semester, dimana dalam dua semester itu gw g boleh dapet D, E, T serta ip dibawah 2.50 dan sks minimum adalah 36 (biar gw g bisa curang ngambil dikit dan dapet ip bagus)). Padahal selama dua tahun gw di itb (sebelum gw pindah), gw dpt ip diatas 2.5 itu baru sekali.

Meskipun harus gw akui, resiko2 kaya gitu itu yang mungkin memacu gw buat lebih berusaha. Klo di TK, gw masih punya waktu 4 tahun lagi sebelum batas waktu do habis. sementara di semester ini (semester satu tahun 0607), kalo nilai gw jeblok dapet D, E, T ato IP di bawah dua koma lima, “da.. dah.. ITB! Terima kasih atas semua kenangan indah selama dua setengah tahun terakhir.”

Kedua, ucapan “kang arief seorang muslim gitu lho” itu dalem banget. Menurut gw, memang bisa menyemangati tapi kalo waktunya salah…? Alhamdulillah gw sedang ceria (siapa yang g ceria IP nya naik 300% lebih?), tapi kalo lagi g ceria? bisa tambah down tuh gw.

Jadi kepikiran kalo mungkin ada suatu momentum minimal untuk bergerak maju/mengalami progress dalam diri seseorang, sebelum dia bisa dikasih ucapan2 dalem kayak diatas. Bila momentum minimal itu tidak tercapai atau jauh dari ambang batas minimal, worst case scenario, bisa kaya gini responnya, “saya juga ga yakin apakah saya seorang muslim…?” Astaghfirullah..!

Tentu saja batas momentum minimal ini berbeda2 untuk tiap orang. Bentuknya juga berbeda-beda. Kalo bagi saya, rasa syukur dalam wujud keceriaan mungkin adalah sebuah momentum yang cukup besar. Ga tau deh bagi orang lain? Kesimpulannya, hati2 dalam penggunaan ucapan yang dalam dan menusuk (meski memang, ucapan dalam dan menusuk itu biasanya ucapan yang benar).

Iklan
24
Apr
07

Jilbab dan Titip Absen

Saya pernah baca di suatu buku, ketika seorang wanita memutuskan berjilbab, dia sedang berusaha (sedang berusaha = proses) untuk menjadi seseorang yang tidak mau dinilai sekadar karena, entah kecantikannya, molek tubuhnya, keterampilan memasak atau menjahit, dan segala macam hal yang biasa diasosiasikan dengan kewanitaan seseorang. Ketika seorang wanita berjilbab, dia ingin dinilai sebagai manusia, dengan nilai-nilai yang diasosiasikan pada manusia.

Terus? Suatu siang (atau sore?), ketika suatu mata kuliah sedang berjalan.. si dosen tiba2 nanya tentang materi yang sedang dipelajari dan tidak ada yang bisa menjawab. Karena kesal, si dosen milih nama mahasiswa secara acak dari daftar absen. Beberapa detik kemudian, nah lho, ketahuan dah tu yang nitip absen.

Beberapa detik kemudian.. nama seseorang akhwat berjilbab lebar disebut. Dalam hati saya, ah, dia mah ga mungkin titip absen! tapi.. lho kok ga ada respon dari seisi kelas? coba saya liat, eh beneran ga ada! dia? ga mungkin ah!

Hal ini kebawa terus di pikiran saya. Sampai suatu ketika… astaghfirullah, saya sudah menilai seorang wanita — yang sedang berusaha untuk memurnikan apresiasi orang atas dirinya, murni karena nilai manusianya — atas jilbabnya!

Jadi kepikiran, kalo orang yang sudah biasa melihat “ancur”nya akhwat berjilbab lebar kaya saya ini aja masih berpikiran segitu tingginya tentang jilbab, gimana dengan orang lain?

Lho kok jadi orang lain? Nih, coba apa alasan yang paling sering kita dengar dari seorang muslimah yang belum memutuskan pakai jilbab. Ah, hatinya belum siap. Ah, masih suka dugem. Ah, ntar harus jadi kalem bin anteng. Jawaban2 ini, sebegitu seringnya ditemukan, pasti bukan karena pemikiran pribadi masing2 muslimah yang ditanya, tapi ada pengaruhnya dari masyarakat.

Yup, masyarakat yang berpikir segitu tingginya tentang jilbab. yang pake jilbab itu pasti gini, pasti gitu, pasti begini, pasti begitu, pasti ga pernah titip absen (ups, ini pendapat saya) dll. Yaaahhh, kalo gitu, kapan para muslimah saudari2 kita yang belum berjilbab akan terencourage untuk berjilbab? Setiap kali ditanyain aja, pasti jawabnya belum siap, harus gini dulu, harus gitu dulu, harus ga boleh nitip absen dulu (ehem!) dll.

Jadi, bapak2, ibu2, adek2, kakak2, teman2, musuh2 (ini majas apa ya namanya?), ubahlah prasangka kita tentang jilbab! Adalah salah bahwa pemakai jilbab itu cewek kalem tidak berdosa! Pemakai jilbab, adalah seorang wanita muslimah yang berusaha berubah ke arah lebih baik dan sedang berada dalam proses perubahan tersebut. Dan muslimah yang sedang dalam proses perbaikan diri itu kan belum tentu berjilbab (tp jangan dijadiin alasan tidak berjilbab ya!) Nah, baru kemudian jilbab itu menjadi salah satu parameter terjadinya proses perbaikan tersebut.

Jadi, sekali lagi, memakai jilbab bukan berarti harus bertindak sebagaimana wanita bertindak dan orang suci berperilaku dalam pandangan masyarakat umum. Lemah lembut dengan tutur kata halus, jaga perilaku, ga pernah berbuat dosa dll. Liat tuh, ada satu temen saya, jilbab lebar, suatu siang melompat2 gembira karena dapat menunjukkan kaos kaki barunya yang berwarna pelangi. Dan satu lagi, temen saya, jilbab lebar, bersejarah ngetrek, kalo bawa motor pas belok aja gigi empat! Klo di jalanan sepi sih gapapa ya, lha ini didalam kampus! (ups, yang ini beneran ga boleh ditiru).

(tentang jilbab dan pandangan masyarakat umum tentang wanita, wanita berjilbab tu juga ada yang suka gosip lho. kalo di sinetron kita sering liat cwe berjilbab digosipin sok suci dan ditatap dengan pandangan khas wanita (u kno wha i mean). nah, kalo di mesjid kita sering dengar cwe berbaju ketat, again, ditatap dengan pandangan khas wanita, dan digosipin, oleh cwe berjilbab! kapan yang baju ketat mau pake jilbab, kebetulan dapat hidayah solat di masjid aja dipelototin!)

Ingat, siapa yang terbaik di masa jahiliyahnya akan menjadi yang terbaik di Islamnya. Ukhti, be better but stay who you are. cause there’s nothing bout you we should change (halah, Joey McIntyre).

 




berapa orang sih yang hadir?

tracker

Parameter eksistensi kah?

  • 108,108 hits