07
Apr
06

artikel jalan terang di kronika 2006-04-07

Suka dan Suka


Lihat cara dia berjalan. Dengar cara dia berbicara. Sepintas, betapa sempurnanya dia. Sepintas kemudian, ingin rasanya berbicara. Berikutnya, baru sadar kalo tiada hari tanpa dia terlintas di benak kita. Tiada hari tanpa… ah sudahlah tak usah kuteruskan.

Kira-kira seperti itulah rasanya suka terhadap lawan jenis. Sebagai manusia kita sering mengalami rasa suka terhadap lawan jenis. Lihatlah di sekitar kita. Ibu dan ayah kita tak akan langsung saling mencintai begitu saja ‘kan? Lihatlah di sekitar kita, pasti ada teman kita yang suka senyum-senyum sendiri kalo seseorang kebetulan lewat di depannya, kalo seseorang itu telat datang kuliah, ataupun kalo seseorang itu sedang stres gara-gara pe er -nya ketinggalan. Itu sudah kodrat kita. Itu memang fitrah kita. Itu sudah dari sananya. Namun, seringkali kita temukan rasa suka diperlakukan lebih dari itu.

Apakah karena memang udah dari sananya, maka kita perlakukan rasa suka itu sesuka kita? PDKT, kemudian nembak, kemudian pacaran kalo diterima, atau kemudian depresi en stres trus IP jeblok kalo ditolak? Oke-oke, di sini saya ga akan ngomongin kenapa pacaran ga boleh. Udah banyaklah yang ngomongin itu, mulai dari pacaran itu mendekati zina, pacaran itu ngabisin duit, pacaran itu ngabisin pulsa dll., dll. Solusi gampang untuk masalah duit dan pulsa abis akibat pacaran, memang ga pacaran sih sebener-nya. Tapi sekali lagi, saya ga ngomongin pacaran di sini.

Yang ingin saya omongin sederhana saja, rasa suka yang gimana sih yang ga akan bermuara di habisnya pulsa dan duit kita. Yang ga akan berakhir di depresi en stres trus jeblok-nya IP. Rasa suka yang fitrah yang berbeda dari rasa suka (yang dicemari nafsu) yang berakhir pada hal-hal negatif di atas.

Terus apa yang membedakan kedua rasa suka itu? Tetep suka tapi ga pacaran? Ga sekedar itu, meski ga pacaran adalah salah satu manifestasi dari rasa suka yang fitrah tersebut. Ga pacaran itu gampang. Segampang susahnya menemukan orang yang juga kebetulan suka ama kita. Segampang tidak usah bilang ke dia bahwa kita suka dia (bagi beberapa orang ini susah).

Susah untuk tidak mengatakannya setiap kali bertemu? Ya jangan bertemu. Pengen ketemuan terus? Cobalah untuk meresapi tujuan dari ingin bertemu tersebut. Kalo cuma buat pinjam catatan, ya pinjam aja, ga usah basa-basi. Kalo cuma buat menyampaikan bahwa besok ada rapat panitia kegiatan, ya sampaikan saja, ga perlu kan ngomongin hal lain yang ga berhubungan ama “agenda” pembicaraan?

Jadi rasa suka yang seperti apa? Rasa suka yang pada fitrahnya ada, tapi bukan untuk diberitahukan sebelum saatnya atau malah digembar-gemborkan. Rasa suka yang cukuplah hanya Allah dan kita (dan mungkin keluarga dan teman-teman terdekat kita) sendiri yang mengetahuinya. Sebagaimana rasa suka antara Ali dan Fatimah, yang sampai-sampai iblis pun tidak mengetahuinya. Rasa suka yang diwujudkan dalam kata dan bermuara pada cinta kepada istri kita (atau suami kita) pada saatnya nanti. Bila belum sampai pada saatnya, cukuplah untuk hati kita sendiri.

Jadi rasa suka yang seperti apa? Rasa suka yang sekedar rasa suka. Rasa suka yang tidak akan mengurangi keimanan kita. Rasa suka yang tidak membuat kita menuhankan dia yang kita suka. Rasa suka yang justru menambah keimanan kita dengan membuat kita menyadari bahwa rasa suka itu memang fitrah yang dianugerahkan Allah kepada manusia.

Menurut saya, itulah yang membedakan kedua rasa suka itu. Menurut Anda?

Ada pendapat yang menyatakan, daripada mendapat segala kerugian rasa suka, lebih baik ga usah punya rasa suka sama sekali. Selama itu merupakan usaha preventif, dengan hijab misalnya, malah bagus. Tapi siapa yang bisa menjamin kita ga akan suka ama seseorang di dunia yang sudah terlanjur seperti ini? Bila kemudian usaha-usaha itu menjadi usaha untuk menghilangkan sesuatu yang terlanjur menjadi bagian hati kita, usaha keras menghilangkannya akan membuat rasa suka itu semakin tak bisa meninggalkan hati kita. Itu bukan berarti kemudian kita malah mencari-cari kesempatan untuk bertemu. Ingatlah sekali lagi bahwa suka dengan seseorang itu fitrah. Bila tiba-tiba kita sadar kita menyukai seseorang, biarkanlah rasa itu mengalir ke dalam hati kita dan hanya di hati kita bila memang belum waktunya (menikah). Bila sudah? Tunggu apa lagi?

-untuk seseorang yang dia tak tahu aku menyukainya-

*Siapa tuh? Gue aja belum tau….


6 Responses to “artikel jalan terang di kronika 2006-04-07”


  1. Mei 7, 2007 pukul 4:25 am

    Rif…

    Bagi gue…suka itu belajar…

    kalo lo kagak suka… lo gak akan belajar….

    hehehehee…..

    kaget gak seh lo denger gue ngomong gni…

    padahal biasanya gw sensi…

    yah..gw baru sadar lu cowok tulen!

  2. Mei 7, 2007 pukul 12:02 pm

    @_NaRaisSa_

    kalo lo kagak suka… lo gak akan belajar….

    hehe, ga kotor ga belajar. seperti kata Bang Ad, “pilih mana, steril atau imun?”

    padahal biasanya gw sensi…
    yah..gw baru sadar lu cowok tulen!

    oh, jadi selama ini lo sinis ama gw gara2 g lo anggep cowo tulen, huh!
    mangnya yang lu anggep cowo tulen kaya apa? kurang apa coba gw? hihihi…!

  3. Juni 4, 2007 pukul 6:08 am

    ……………………………….
    *speechless*
    dalem buanget….
    “menohok” hati!
    hukz,,,,,,,T_T
    *asli speechless nih!*

  4. Agustus 15, 2007 pukul 8:54 am

    waduh, kok spicles?
    ahaha~, ketika nulis ini, rifu sedang “idealist mode on”
    *gila, komen dari 2 bulan yang lalu baru dijawab sekarang*


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


berapa orang sih yang hadir?

tracker

Parameter eksistensi kah?

  • 93,182 hits

%d blogger menyukai ini: