Latest Incarnation

New frame, crankset and seatpost. DX3.0 2010, old Deore with custom singlespeed 32T chainring, and 31.6x400mm Uno.

Btw, posting perdana dari BB! :mrgreen:

edit: ok, I admit kalo ngedit ukuran fotonya ngga dari BB. ๐Ÿ˜ณ


for my 25th bday I got a..

broken collarbone. Yup, kejadiannya 8 Januari kemaren di Cikole. Crashed di chickenway-nya drop setelah berm zigzag abis section doremi. Suddenly I got sent over the bar and landed shoulder first. Don’t ask me why I got sent over the bar in the first place, I too don’t know the cause. I crashed, dan meskipun ngga ilang kesadaran, pas nyoba bangun tangan kanan ngga bisa dipake buat numpu. Dislocated shoulder was what came to my mind first. Took of my T-shirt to do some inspection, and when I felt a bulge on what was supposed to be my clavicle, I was almost sure that it must be broken.

TKP, foto diambil dua hari sebelum kejadian. Kredit foto: Arly Aurizki Putra

Made an emergency arm sling from my T-shirt (dan arm sling itu dibilang bagus sama dokternya, hihi), and got evacuated to Bandung. Admitted to Halmahera Hospital where I was X-ray’d. It really was a fracture. Patahnya di 1/3 tengah klavikula kanan, oblique. Karena masih bingung mau operasi atau ngga, akhirnya di Halmahera cuma di fiksasi dengan ransel velband. Spent the night in Jakarta, the next morning I was told by a relative, who also a doctor, to be operated in Solo. Took a quite cheap Garuda flight w/out reservation that same morning (some panic event omitted here) and I was operated on the evening. ๐Ÿ™‚

before and after.

Selama masa pemulihan di Solo, which is quite boring for the first few days with no internet connection, I’ve spent my time wondering what went wrong. Rider atau sepeda? Kondisi trek? Kenapa jatuh? Cara jatuh yang salah? Well, on to elaboration. Kondisi badan hari sabtu itu terbilang fit selain pergelangan tangan kanan yang range of motion-nya belum full sejak jatuh hari minggu sebelumnya. Paha kanan ada yang ketarik sedikit karena memakai seatpost yang terlalu pendek ketika riding hari kamis (ketika foto di atas diambil). Setting sepeda cuma ganti seatpost+saddle aja dari setting riding sebelumnya. Kondisi trek sangat kering, tidak seperti Cikole biasanya yang licin-licin asyik. :mrgreen:

Lha, kalo gitu kenapa jatuh? Well, I was riding faster than ever (it was unusually dry!), but I’m sure I was riding within my capabilities. I wasn’t trying new lines. I kept my vision way ahead andย wasn’t “surprised” with berms and drops. Right, berms and drops. No wonder I crashed on a chickenway. Thing is, a chickenway is usually designed to be a way around a big obstacle. Hence the name. People usually ride it SLOWLY. At the moment of the crash I was exiting the previous berm way quicker than I usually was and hitting the chickenway quite fast. On second thought, my speed was actually enough to clear the drop next to chickenway. I didn’t take the drop because I’m not familiar with it and it somehow seemed quicker if I took the chickenway. ๐Ÿ™„

So, my front wheel must be stuck on to something on that chickenway. Stuck on to what, I don’t know. I went over the bar, and crashed shoulder first. I should have done an ukemi back then, but there are some possible factor as to why I didn’t. First, lack of ukemi practice. Second, I haven’t get used to crashing at that kind of speed in Cikole. Third, the crash was so sudden. Fourth, I was still protecting my right wrist unconsciously. Fifth, a few weeks before I was having a pool jump session and impacting into the water with no ukemi (why should I?), probably messing my ukemi reflexes. In the end, no ukemi, and add that to the fact that the track was really dry so it was all impact with no dissipation from sliding. ๐Ÿ˜

And here I am with a broken bone. Hopefully it will heal fast. Well, my friend said that oblique fractures heal faster than tranverse one. So here I am, hoping. ๐Ÿ˜€

Apart from the mountain biking side of stuff, quite a few other things come to mind. I was somehow quickly be in a state of acceptance that I broke one of my bones (well, statistically, clavicles are the most common broken bone in the human body). I wasn’t as composed as that when it comes to treatment expenses though, but thankfully it wasn’t as bad as I thought it would be. I really am grateful.

Being grateful and accepting is, frankly speaking, what I really need at the moment. I actually was going to whine that someone was treating me sardonically when I got an accident from doing things I like the most. When I got an accident while I was trying to figure things out. Well, I guess the accident is a part of figuring things out. And I understand that sardonism. Wait, I wasn’t talking about guessing and understanding. So.. the thing is, usually I expect the same someone to make a blogpost about this day. Keep expecting is not being grateful and accepting, so there goes a lot of expectations. Maybe what I just type are only typings, but I alwaysย have to try. Yang penting usaha. :mrgreen:


PB stands for PlaceBo

Pasti udah pada tahu kan yang namanya PowerBalance, biasa disingkat PB? Buat yang belum tahu, ini adalah gelang silikon berhologram yang oleh penjualnya diklaim memiliki embedded frequency untuk meningkatkan keseimbangan. Guess what? They admit that their claim have no scientific evidence that supports it. Well, at least begitulah pengakuan distributor PB di Australia.

Gelang PowerBalance

gelang PowerBalance

Tapi bagaimana dengan pengakuan para pembeli yang merasakan efeknya? Satu kata, placebo. Lha, terus kalo udah diakui bahwa klaim penjualnya hanyalah marketing bull sh*t, efek placebo-nya bakal hilang dong? Mungkin, maka daripada itu kita dapat menemui distributor yang terus bersikeras bahwa dagangan mereka bukan bohongan. Mungkin juga tidak. He?

Betul, hasil jalan-jalan blog beberapa hari sebelumnya I stumble on to this. Mungkin ini dapat menjelaskan tentang penjualan PB yang kata penjualnya tidak terpengaruh. Di sisi lain, mungkin emang peminatnya masih terlalu mudah percaya juga sih. ๐Ÿ™„

kamu nya yang terlalu skeptis kali Fu?

Hehe, begini, kenyataannya memang belum ada tuh entri di jurnal-jurnal penelitian bahwa apa yang distributor PB katakan adalah benar (yah, yang bilang salah juga belum ada sih). Semisalnya semua omong kosong embedded frequency itu diabaikan pun, masih belum ada juga penelitian yang meneliti efek PB terlepas dari mekanisme dibaliknya. Terus bagaimana dengan trik-trik pembuktian yang dilakukan penjual? Long story short, they are not scientifically acceptable because they are not double-blind.

Untuk memudahkan visualisasi, eksperimen sederhana yang dilakukan mulai pada menit ke-3 pada video diatas dijalankan secara double-blind. Protokol yang dilakukan sama dengan trik pembuktian yang biasa dilakukan penjual PB, namun kali ini baik penjual (observer) maupun subjek eksperimen tidak tahu subjek yang mana yang membawa kartu PB berhologram. Bila dilakukan seperti ini, bias dari sisi observer maupun subjek dapat dihilangkan.

Memang eksperimen sederhana ini belum tentu valid dari sisi jumlah sampel, but you’ll get the idea. In the mean time, whether it works or not, we have to wait until there is a valid study. Meskipun begitu, ada aja sih dokter yang katanya sport science practitioner yang bilang kalo PB beneran punya khasiat khusus, bukan sekadar placebo. Weird, me thinks. ๐Ÿ˜›

Bacaan lebih lanjut:


New Riding Photos (dec 2010 – jan 2011)

kredit foto: ย Adam-man Devito

kredit foto: Dian Agung Nugroho

kredit foto: Reza Firmanda


ah kok jadi puisi?

a dream can be so vivid, but as times go by, just like memories, it will fade away..

pagi ini aku baru aja sidang. yup, bisa dibilang sekarang aku sarjana. tapi sejujurnya rasanya biasa2 aja tuh, ngga ada euforia dan segala macemnya. senyum yang keluar tuh karena seneng ngeliatin temen2 seneng ngeliat aku yang baru aja beres sidang. :mrgreen:

pagi ini diawali dengan bangun tidur. bangun tidur dari senyuman Ma. hari ini, aku ngga tau perasaan ku ke Ma, tapi siapa pun Ma itu, aku tahu kalo galangan itu akan selalu ada.

pagi ini kembali ke tanpa harapan lagi, untuk menyelesaikan harapan-harapan yang tanggung untuk ngga diselesaikan. bukan karena tanggung, tapi untuk menyelesaikan harapan demi harapan itu sendiri. pagi ini berakhir terlalu siang, dan siang beranjak dengan cepat ke senja.

aku tidak bisa bercerita banyak tentang senja. aku hanya bisa berbagi kecupan terakhir setelah menjadi sok bijaksana yang ujung2nya tetap berasa kecut.

aku ingin mengakhiri ini di kata kecut, namun adalah terlalu kecut bila aku tidak bercerita tentang yang manis dan yang asam, yang pahit dan yang manis sekali. dan yang asin serta yang manis ala nu green tea. ๐Ÿ˜ณ

aku bukan beriklan, tapi aku bercerita tentang harapan. harapan yang masih dalam buaian. harapan yang bisa tumbuh menjadi apapun yang aku tak tahu.


goodbye, and hello. :mrgreen:



sisipan. ngga seru aja kalo dua post berturut-turut tentang hal yang sama. eh, tapi kalo dua post berturut-turutnya tentang sepeda kayaknya pernah ya? hihi.


Ma. 24.

Duuh, lagi-lagi satu minggu ini habis dengan sekejap mata. Ma yang mulai sibuk dengan stase PDL, aku yang mulai masuk semester baru (sekaligus terakhir) seolah-olah merenggut quality time yang biasa kami miliki. Ma yang harus masuk jam 5.30 pagi dan aku yang justru terbiasa ngebangunin Ma jam segitu.. Dan hal-hal kecil yang terlupakan lainnya, namun menjadi terasa.

Tapi memang waktu itu relatif. Satu minggu yang berlalu cepat tidak berlaku untuk satu panggilan telepon di pertengahan minggu tersebut. sebentar saja, tapi ya seperti yang saya bilang, terasa.

Huhu, tampaknya dari tahun ke tahun, terlihat kecenderungan bahwa di blogpost dengan tujuan ngasih selamat milad ke Ma selalu diawali dengan curcol dulu ya. Nah. sekarang do’a nya..

Met milad Cinta, semoga ngga lupa makan, bisa bangun pagi (untuk yg ini ud terkabul, hehe), dianugerahi kesehatan, rajin olahraga, lho kok physical semua ya doanya, hehe. Tetap menjadi Ma yang Ma cinta ya. Cinta Ma yang Ma. ๐Ÿ˜ณ

Maaf Cinta kalo blogpost nya pendek, ngga ada foto2, ngga ada lagu, tadinya mau pasang Happy Birthday to You nya NKOTB, tapi oldskool banget sih jadi ya sepi gini deh, huhu.. Looking forward to meet you again. Miss you, always.

berapa orang sih yang hadir?


Parameter eksistensi kah?

  • 136.950 hits