Halaman Arsip 3

15
Agu
07

pola yang berbeda

23072007138.jpg

perhatikan gambar pintu depan sebuah rumah ini. ada yang aneh? yak, betul, pola kaca pintunya berbeda antara daun pintu kiri dan daun pintu kanan. kok bisa beda?

panjang ceritanya, tapi kalo ga diceritain mana bisa selesai kan? ahaha~

jadi waktu smp, saya tuh suka banget (atau terobsesi yah?) untuk melompat menggapai balok penyangga yang ada di tengah langit2 ruang tamu rumah tersebut. (iya, waktu smp saya tinggal di rumah itu) yah, mungkin biar tambah tinggi kali yak? tak tau juga lah, pola pikir rifu waktu smp kan memang susah ditebak.

070720_152313.jpg

nah, balok penyangga itu pada saat kejadian penyebab pola kaca berbeda itu sudah sering aku gapai. ya tentu saja dong aku pengen tantangan berbeda. aku memutuskan untuk mencoba menggapai langit-langitnya aja sekalian. tingginya kira-kira sepuluh senti lebih tinggi daripada balok itu.

karena sadar bahwa aku harus melompat lebih tinggi (lagu sheila?) untuk menggapainya, maka aku pun mengambil ancang-ancang di ruang tamu yang tidak seberapa besar itu dan mulai berlari ke arah lompatan yang akan ku lakukan.

yak, dan saya pun melompat..

*ah, tipis kali.. sedikit lagi kena tuh..* adalah apa yang apa di kepala saya waktu itu…

ketika mendarat, saya tersadar bahwa saya berada tepat di depan pintu. tangan saya pun refleks terangkat ke arah pintu untuk menghentikan laju saya. yang aneh, saya kok sempat-sempatnya berpikir bahwa “ini rumah tua, bisa2 pintunya jebol, ya sudah deh, geser tangan sedikit sehingga yang kena kacanya aja, masih mending rumah ga punya kaca pintu depan daripada rumah ga punya pintu depan”. jadilah tangan saya tergeser dan menuju dengan deras ke arah kaca.

tentu saja kaca itu pecah. konon pecahannya sampai ke jalan raya. dan tangan ku pun menjadi korban. ada robekan besar di lengan kanan sebelah luar, dua robekan yang lebih kecil di siku, dua sayatan kecil di pergelangan tangan dan satu sayatan kecil di telapak tangan. robekan di lengan atas itu yang edan. bentuk lukanya lebih seperti disayat dari sudut miring sehingga kulit dan jaringan adiposa di bawahnya yang berwarna putih sampai menggulung ke arah dalam. bila aku pikirkan lagi saat ini, alhamdulillah luka itu tidak terbuka sampai ke tulang dan tidak mengenai arteri besar.

anehnya, luka sebesar itu malah terasa tidak terlalu sakit dibandingkan dengan luka terjatuh di aspal yang biasa aku dapat ketika maen sepatu roda. setelah aku menyadari apa yang terjadi dalam sepersekian menit itu, aku segera ke sumur untuk membasuh luka seperti yang biasa orang lakukan ketika terluka. bulekku yang melihat pun segera menyuruh aku ke rumah sakit.

aku dianter ke rumah sakit naik motor dengan darah berceceran dari lengan ku yang hanya sempat dibalut kaos oblong untuk menahan aliran darah. aku menyaksikan darah ku menetes2 ke aspal jalan selama perjalanan singkat ke rumah sakit itu. *sok dramatisir* eh, tapi beneran itu yang terjadi.

sesampainya di rumah sakit, aku segera diterima di UGD dan diperiksa bidan (eh atau dokter yah?). komentar pertama bidannya (iya iya, gw masih bingung, yang waktu itu meriksa gw bidan atau dokter) itu ada yang seperti ini: “Wah, lukanya parah sekali, mungkin harus dioperasi plastik”. buset dah!! operasi plastik? edun!! separah itukah?

yah tapi akhirnya ga jadi sih operasi plastiknya. cuma dijahit biasa aja kok, tentu saja setelah dibius lokal. aku menyaksikan sedikit demi sedikit lengan ku dijahit dengan jarum melengkung, dengan pandangan impulsif. *ya iya lah, udah dibius, ga kerasa sakitnya, malah rasa penasaran kan yang keluar*

total ada tiga puluh lima jahitan. 18 jahitan di luka besar di lengan atas, 13 jahitan di dua luka di siku, 3 jahitan di pergelangan tangan, dan satu jahitan di telapak tangan. haha, dan yang paling sakit ketika dijahit malah yang di pergelangan tangan. padahal cuma satu jahitan..

dan ini bagian yang agak memalukan, setelah luka2 ku selesai dijahit dan diperban.. I have to get a TT shot on my gluteus!!! yes, on my gluteus!! udah gitu sempet ada adek sepupu cewek gw yang ngintip pulak, malu kan?! yah, tapi daripada kena tetanus sih, mau gimana lagi?

kemudian, setelah diberikan obat *aku lupa obatnya apa, antibiotik kali yah?* aku pun pulang. berwudhu dan sholat ashar dengan perasaan yang sangat aneh karena lengan kanan yang sangat sukar ditekuk dan.. hmmm, kok aku lupa ya seterusnya.. *langsung lanjut ke besoknya aja deh*

siyalnya, kejadian ini tepat terjadi sebelum promotion test di LIA dan besoknya ada ujian sumatif matematika. gwwaaaa!!!!! akhirnya aku harus ngambil promotion tes susulan dan.. tuh kan aku lupa lagi.. berapa yah nilai matematika ku waktu itu?

sekarang.. setelah diingat2, alhamdulillah ga ada luka yang kena arteri besar, kan bisa gawat. haha, malah jadi reminiscing nih, nulis gini karena baru aja balik ke rumah masa smp itu pas liburan kuliah kemaren :mrgreen:

15
Agu
07

end of..

hiatus!!!!

akhirnya, semua komen yang belum aku respon sejak hiatus sudah aku respon. sekarang.. tinggal tunggu post baru aja lah. yang jelas bukan tentang tag dari tyo itu, males.. ahaha~

*post sangat singkat*

 update:

- duh, yang di OOT belum direspon, lupa..

- buat semuanya yang udah meninggalkan komen dan berkunjung ke blog ini selama rifu hiatus, makasih banget yah.. :D

26
Jun
07

maap… maap…

kepada teman-teman yang sudah menunggu-nunggu update-an blog ini *lirik sini dan lirik situ* dan kepada teman-teman yang udah baik banget mau komentar baik di post-post sebelumnya maupun di halaman OOT, saya minta maaf karena untuk beberapa waktu ke depan, saya akan sibuk dengan bikin proposal penelitian.

halah, rifu, sok seleb blog kamu!!

hei, bukan itu maksud saya! seperti yang saya tangkap setelah membaca ini, blog sebagai sarana bersosialisasi tentu membutuhkan perhatian tersendiri dari si pemilik blog agar blognya nyaman dikunjungi. dalam bentuk seperti post yang informatif dan tentu saja respon terhadap komentar yang masuk. jadi, atas tidak adanya post baru dan kurangnya respon dari saya terhadap komentar yang masuk, pantas dong kalo saya minta maaf?

anyway, tentang lomba penelitian itu, dibawah adalah sedikit dari apa yang saya temukan di “diary” saya tentang keikutsertaan saya yang pertama kali di lomba penelitian yang sama, tahun 2006 lalu.

———-

sekre aksara, 2006-04-24

    jadi ini tulisan pertama yang saya buat karena permintaan dari seorang “senior” untuk membiasakan saya untuk menulis. tulisan ini sebenarnya diharapkan sebanyak mungkin, tapi kalo bertahap gapapa kan teh?

    ok, saya cerita aja. senin yang lalu, 17 april 2006 merupakan hari pengumuman proposal penelitian yang diterima untuk didanai oleh itb dan mengikuti tahap selanjutnya dari lomba penelitian tersebut. hari yang lumayan saya tunggu-tunggu. ya, sebenernya ga ditunggu-tunggu amat sih.

    paginya, saya sempatkan pergi ke lpkm untuk menemui si bapak yang memang mengurusi masalah-masalah yang berkaitan dengan lomba-lomba kemahasiswaan. kata si bapak, sebenarnya data dari juri sudah sampai, namun belum sempat diolah sehingga belum dapat diumumkan. si bapak kemudian menjanjikan pengumuman akan keluar pada selasa, kalau tidak selasa maka rabu.

    selasa sore, setelah seharian tidur gara-gara “sakit gak jelas”, saya pergi ke salman untuk meminjam charger hape, maklum lobet. ketika hendak mencolokkan kabel charger ke hape, saya mendapati beberapa sms masuk. salah satunya dari teman satu kelompok penelitian, hegar, farmasi 2005.

    beritanya, alhamdulillah proposal diterima. reaksi pertama saya, tersenyum ga percaya. sore itu saya langsung pergi ke lpkm. yap, saya mendapati judul penelitian saya terpampang sebagai satu dari tujuh belas judul penelitian yang diterima. yaah, meski nama saya ketulisnya salah, areif nugroho, bisa dipastikan itu memang judul penelitian tim saya.

    selain judul dari tim saya, saya juga mendapati beberapa judul penelitian yang diusulkan teman-teman saya. satu dari kimia dengan tema yang tidak begitu berbeda dengan saya, energi alternatif. seorang teman dari unit salman dengan tema lingkungan hidup dan satu lagi dari biologi dengan tema lain-lain yang berhubungan dengan ipteks.

    setelah menyempatkan membaca seluruh isi pengumuman yang terpampang, reaksi kedua saya adalah heran. iya, heran. lha itu proposal bikinnya mepet deadline dan seadanya, kok ya bisa keterima? udah gitu, kayaknya kalau dibandingkan dengan teman-teman lain yang juga ikut mengumpulkan, punya tim saya tuh paling tipis. total halaman isi, tanpa lampiran, halaman judul dan pengesahan hanya tujuh halaman.

    sebelum mengumpulkan, saya menyempatkan bertanya ke salah seorang teman yang ikut mengumpulkan proposal tentang jumlah halaman. jawabnya, “dikit kok, cuma dua puluh satu halaman”. dalam hati saya nyeletuk, 21 dikit, gimana 7? yah, gapapa lah, saya menanggapi celetukan saya sendiri, siapa tahu karena sedikit malah dianggap simpel dan padat? pokoknya proposal itu jadi saya kumpulin seadanya. yang penting ga telat deadline ngumpulin lah. kan lumayan dapet dua ratus ribu (ITB memberikan jumlah sekian untuk setiap proposal yang masuk sebagai ganti biaya cetak atau fotokopi).

    keheranan saya, dan teman satu tim saya yang ternyata juga heran, bertahan beberapa hari. untuk menghilangkan keheranan saya, saya mencoba mencari tahu komentar juri tentang proposal tim saya. saya baru sempat bertanya ke si bapak yang mengurusi masalah-masalah yang berkaitan dengan lomba-lomba kemahasiswaan lagi hari ini, senin 2006 april 24, setelah selesai kuliah.

    ketika saya membaca komentar juri tersebut … gruduk-gruduk, apa itu? seseorang jatuh dari tangga? aku menyempatkan melihat, tapi ternyata yang bersangkutan tidak apa-apa. bagus lah … keheranan saya pun mulai bisa dipahami.

    komentar juri, pustaka kurang tapi gagasan dan sistematika sudah baik, rumusan masalah dan tujuan jelas, metodologi sesuai dan sistematis. wow. kalo masalah pustaka memang sih tim saya cuma mencantumkan satu judul di daftar pustaka (sebenarnya yang satu itu lebih dari cukup, sangat komprehensif, lha wong tebelnya aja 300an halaman, semua tentang topik yang saya ajukan di proposal).

    kalo ngeliat dari komentar juri, tebal tipis tampaknya tidak terlalu menjadi masalah. dan untuk yang “dipuji-puji ama juri” itu, well, what can i say, semuanya itu kan hasil penjabaran dari konsultansi ama dosen pembimbing tim saya. setelah heran, sekarang saya bingung, ada waktu buat ngerjain tuh penelitian gak ya?

———-

 

hihihi, maap ya kalo pusing bacanya, cuma kopipaste dari notepad sih :mrgreen:

sedikit catatan, lomba penelitian seperti ini nih yang bikin saya lebih enjoy kuliah. ketika materi perkuliahan gak cuma sekedar materi yang setelah diujiankan kemudian dilupakan. salah satu dari bagian-bagian yang bikin kuliah enak, seperti yang saya sebutkan di sini, kalimat terakhir pada paragraf kedua dari bawah.

berita resmi tentang lomba penelitian bisa dilihat di sini.

11
Jun
07

another poem?

Kau nyata

Aku berkelit

Aku ada

Kau jengah

Kau ada

Aku mau

Aku nyata

Kau… tak mau kah?

originally written on 2007-06-07.

05
Jun
07

berawal dari canda…

Masalah ini berawal dari sini, komen #70 s.d. komen #89 pada saat post ini dibuat. Jadi teringat, saya, bersama seorang teman, pernah menulis artikel di rubrik “Jalan Terang”, buletin jumat “Kronika”, edisi 29 September 2006.

 

——————————–
Canda dan Prasangka

 

Siapa di antara kita yang tak pernah bercanda? Setidaknya pernah kan walaupun sesekali. Kebanyakan diantara kita pasti sebenarnya sering melakukannya, cuma tidak banyak teman-teman kita yang lain yang pernah melihat kita bercanda. Canda pun telah menjadi sarana mempererat persaudaraan karena perasaan gembira yang ditimbulkannya. Canda sudah menjadi hal yang lumrah pada manusia.

 

Tak ada yang melarang bercanda, bahkan Rasulullah SAW pun pernah melakukannya. Rasulullah, jika bercanda selalu dengan tujuan untuk menghibur, mempererat hubungan silaturahmi, dan menyenangkan hati orang lain. Candaan Rasulullah SAW lebih berbobot, berdaya nalar dan benar.

 

Pernah suatu ketika seorang sahabat menanyakan dengan apa Rasulullah akan pergi ke suatu tempat. Lalu beliau menjawab, ”Dengan menunggang anak unta.” Mendengar jawaban Rasulullah SAW tersebut, sahabat itu malah heran dan terbesit dalam pikirannya bahwa mana mungkin beliau menaiki seekor anak unta. Lalu sahabat tersebut bertanya kembali, “Wahai Rasulullah SAW, mengapa engkau menaiki anak unta?”

 

Sambil tersenyum, Rasulullah pun menjawab “Bukankah induk unta adalah juga anak dari unta?” Dan sahabat pun akhirnya tersenyum juga. Namun canda yang sering kita temui sekarang tidaklah selalu berakibat baik. Berikut adalah pengalaman saya dengan suatu canda yang kurang “pas”.

 

Aktivitas saya di beberapa unit Salman tidak dapat dipungkiri menyebabkan saya harus berinteraksi dengan teman-teman lawan jenis. Kadang timbul masalah antara saya dengan mereka. Sehingga pengklarifikasian masalah untuk menghindari adanya salah paham adalah hal biasa.

 

Suatu ketika, saat saya sedang mengklarifikasi suatu masalah dengan akhwat A via telpon, ada akhwat B yang men-cie-cie-kan akhwat A yang sedang berbicara dengan saya. Setelah itu, saya bertanya, maksud cie-cie yang tadi itu apa? Karena sepengetahuan saya, kata-kata itu dipakai biasanya ketika ada orang sedang pacaran atau pedekate atau sedang mempercandakan dua orang lain seolah-olah ada hal-hal berkaitan dengan hubungan lawan jenis pada dua orang lain itu.

 

Belakangan, akhwat B yang berkata cie-cie mengklarifikasi bahwa hal yang waktu itu tidak ada maksud apa-apa. Adalah maklum bila sesama akhwat saling bercanda, bila dalam hal ini ada ikhwan yang mendengar, toh itu juga dengan saya yang sudah mengenal akhwat B tersebut sebelum saya kenal akhwat A. Sudah kenal dan maklum gitu, jadi nyantai aja.

 

Waktu itu, saya menanggapi kalau bercanda itu normal tapi kan kalo bercanda kaya gitu dan didengar orang lain yang tidak memakluminya serta berprasangka yang aneh-aneh, gimana coba? Ada potensi jadi fitnah kan? Saya juga pernah mengalami kejadian serupa dahulu (yap, ini bukan pertama kalinya terjadi pada saya) dan hal yang sama juga saya bilang ke akhwat yang waktu itu juga lagi bercanda.

 

Jadi intinya, bercanda itu normal, apalagi sama orang yang sudah dikenal. Masalahnya kan pada prasangka orang lain yang belum kenal kita. Kan bisa dikira yang aneh-aneh? “Masak aktivis ********?” Ato kalo bukan pada prasangka orang lain, bagaimana dengan yang bersangkutan? Iya kalo nyantai-nyantai aja dan dianggap angin lalu. Kalo tersimpan dalam hati dan dikipasin ama setan gimana? Nah lho..!

 

Kesimpulannya? Bercanda ok, tapi dimana dan kapannya itu harus diperhatikan. Karena berkata yang baik dan benar terkadang sulit untuk dilakukan. Apalagi jika ingin dikemas dengan sebuah candaan. Maka perlu sikap yang lebih hati-hati dan kesadaran yang penuh. Sebuah pepatah mengatakan, “Lebih baik menyesal karena tidak mengatakan sesuatu daripada menyesal karena telah mengatakan sesuatu.”

 

Kan sayang kalo bercanda yang niatnya bercanda bagus-bagus buat mempererat rasa ukhuwah malah menjadi biang timbulnya hal-hal seperti prasangka yang malah bikin setan senang. Jadi sia-sia tuh! Padahal Rasulullah SAW bersabda, “Di antara tanda-tanda keislaman seseorang itu baik adalah ketika ia mampu meninggalkan hal-hal yang sia-sia bagi dirinya.”
——————————–

 

Meski memang sih, waktu itu saya dikomentarin sama seorang akang di unit sebagai “nggak dewasa, hal gitu kok dibahas”.

 

Belakangan, sikap saya terhadap canda-tipe-itu memang melunak. Kita sudah sama-sama tahu lah (bahwa itu memang sekadar bercanda) istilahnya. Saya mulai menerima, bahkan berpartisipasi dalam canda-tipe-itu. Yang penting kan tidak serius, itu apa yang ada di kepala saya, lha wong namanya aja canda kok.

 

Sampai akhirnya terjadilah masalah diatas. Sampai diem-dieman segala. Berangkat dari rasa tidak-ingin-ada-yang-disakiti. Saya memilih untuk memuat artikel diatas, untuk mengingatkan saya lagi bahwa, meski keluhan-keluhan seperti ini terkesan ngga dewasa, canda-tipe-itu memang belum saatnya.

 

Kepada teman-teman, semoga hal ini menjadi pembelajaran buat saya. Maaf dan terima kasih.

 

Wassalamu ‘alaikum.

04
Jun
07

kenapa?

kenapa harus saya

kenapa harus aku

kenapa harus gw..

kenapa tidak engkau

kenapa tidak kamu

kenapa ngga lo aje..!?!?

yang harus jatuh cinta..

10
Mei
07

Pedoman Pindah Jurusan

Disini saya akan bercerita tentang mekanisme pindah jurusan yang telah saya alami. Tentu saja hal-hal yang akan diceritakan disini tidak dapat digunakan sebagai “manual” pindah jurusan secara umum namun hanya terbatas pada perguruan tinggi tempat saya belajar.


Sebelum kita beralih ke masalah teknis, ada beberapa hal yang harus kita pastikan terlebih dahulu. Pindah jurusan tidaklah mudah. Anda harus mempunyai motivasi yang sangat kuat. Pastikan anda tidak ingin pindah jurusan hanya karena merasa bosan atau ingin satu jurusan dengan pacar anda. Alasan anda pindah jurusan dan jurusan yang anda inginkan harus datang dari diri anda sendiri, karena mungkin bisa saja anda merasa ingin pindah dari jurusan awal anda karena merasa “dipilihkan” orang lain.


Pastikan juga bahwa anda tidak akan merasakan hal yang sama setelah pindah jurusan nanti (ingin pindah jurusan lagi). Berarti anda juga harus mulai mencari informasi tentang kehidupan kuliah di jurusan tujuan yang anda inginkan. Cobalah menyusup ke salah satu kelas. Cari informasi tentang kurikulumnya. Lebih bagus lagi kalau anda memang memiliki banyak teman di jurusan tujuan anda sehingga bisa bertanya-tanya lebih lanjut.

Setelah anda meyakinkan diri anda sendiri tentang alasan pindah jurusan anda dan jurusan tujuan anda, mari kita membicarakan hal-hal teknis. Ada beberapa prasyarat yang sebaiknya anda cermati, terutama terkait IP dan jurusan tujuan anda. Mitos bahwa IP anda haruslah diatas 3.0 untuk bisa pindah jurusan tidak selalu benar. Berdasarkan peraturan tahun 2006, IP anda dipastikan harus 3.0 hanya jika jurusan tujuan anda masih dalam satu kelompok keilmuan yang sama. Jika jurusan tujuan anda berada pada kelompok keilmuan yang berbeda, maka prasyarat IP bergantung pada jurusan tujuan anda. Ada jurusan yang meminta IP anda harus setidaknya 3.5. Ada jurusan yang akan mengadakan tes khusus lagi untuk anda (seperti jurusan-jurusan FSRD). Namun secara umum, biasanya sih cuma ada psikotes (yang menurut saya hanya untuk memastikan bahwa anda memang tidak goblog). Eh, o iya, anda juga harus sudah lulus TPB dan sudah satu tahun berada di jurusan awal anda (satu tahun TPB dan satu tahun di jurusan berarti anda hanya dapat pindah setelah tahun kedua anda).

Setelah anda yakin anda dapat pindah ke jurusan yang anda inginkan, sekarang anda bisa mulai menulis surat permohonan kepada wakil rektor senior bidang akademik, dekan dan kaprodi jurusan yang akan dituju serta dekan dan kaprodi jurusan yang akan ditinggalkan. Formatnya surat resmi, ditujukan kepada wakil rektor dengan CC pejabat-pejabat yang saya sebutkan diatas. Setelah anda mengirim surat, biasanya anda akan diminta untuk mengikuti psikotes atau tes-tes lain terkait jurusan tujuan anda. Hasil-hasil tes ini, beserta rekaman akademik anda selama TPB dan tahun kedua anda/tahun pertama anda di jurusan akan dipertimbangkan untuk menentukan apakah anda dapat pindah jurusan atau tidak, selain tentu saja “ketersediaan kursi” di jurusan tujuan anda.

Bila anda berhasil pindah jurusan, jangan senang dulu. Derita mahasiswa pindah jurusan menanti anda. Di kampus saya yang beberapa hal terkait kuliahnya sudah dicyberkan, seperti pembayaran SPP autodebet serta perwalian on-line, pindah jurusan yang berakibat bergantinya NIM anda akan berakibat tidak dapat digunakannya fasilitas-fasilitas tersebut (sebagian untuk sementara karena dapat segera diurus ke Direktorat Pendidikan, sebagian untuk selamanya karena malas diurus).


Itu baru masalah administratif. Karena anda akan mengikuti kurikulum jurusan tujuan anda setelah anda berhasil pindah jurusan, biasanya anda harus mengambil mata kuliah spesifik jurusan yang diberikan pada TPB (aneh ya, mata kuliah spesifik jurusan tapi dikasih pas TPB). Dalam kasus saya, saya harus mengambil biologi umum I pada semester ganjil dan biologi umum II pada semester genap. Kalau mata kuliah – mata kuliah ini memiliki sks kecil, tidak ada praktikumnya dan oleh karena itu kecil kemungkinannya bertabrakkan dengan mata kuliah lain sih tidak masalah. Yang jadi masalah kalau sks besar (empat sks) serta ada praktikumnya. Besar kemungkinan anda harus merombak total mata kuliah paket yang biasanya akan anda ambil. Lho, kenapa ga ambil sedikit aja dulu? Masalahnya, selama dua semester pertama anda di jurusan yang baru, anda harus mengambil sks minimal 18 per semester. Bisa-bisa anda harus mengambil mata kuliah lain yang sebenarnya tidak/belum boleh anda ambil, seperti mata kuliah – mata kuliah tingkat empat. Ya habis mau gimana lagi? tidak ada mata kuliah tersisa yang tidak bertabrakan.


Selain harus mengambil minimal 18 sks per semester, selama dua semester pertama di jurusan baru anda juga tidak boleh mendapat IP dibawah 2.5 atau salah satu mata kuliah mendapat D. Bila salah satu dari dua hal itu terjadi, maka anda harus mengucapkan selamat tinggal kepada teman-teman kuliah anda karena anda harus di-DO! Dan kalau anda tidak di DO sekarang karena hal-hal itu, berhati-hatilah karena waktu maksimal masa studi anda tetap lah enam tahun dihitung dari anda masuk ITB perguruan tinggi anda. Tidak masalah? Ingat bahwa anda masih harus mengambil mata kuliah ke tahun sebelumnya. Mungkin anda memperkirakan maksimal anda hanya akan kuliah selama lima tahun dari normalnya empat tahun, tapi karena hal tersebut mungkin anda harus menunggu sampai enam tahun. Injury time tuh!


Ok ok, kebanyakan dari hal-hal yang saya ceritakan barusan adalah bagian-bagian beratnya. Sekarang saya akan bercerita tentang bagian-bagian enaknya. Sekarang, andaikata anda ingin pindah jurusan karena memang itu adalah panggilan dari lubuk sanubari hati terdalam anda, maka tentu anda akan merasa lebih enjoy kan? Ah, cuma rasa enjoy doang! Eh, jangan salah sangka, perasaan bisa menikmati jalannya perkuliahan itu berkontribusi sangat besar lho bagi orang-orang seperti saya yang membutuhkan motivasi ekstra untuk mau tetap bangun selama perkuliahan untuk keberhasilan anda mengerti materi yang dikuliahkan. Walhasil, jangan kaget kalau IP anda di jurusan baru bisa melonjak sampai ratusan persen dari IP di jurusan asal (kalau tadinya IP anda memang jelek ya, kalau IP anda sudah bagus, maaf, IP maksimal yang mungkin itu cuma 4.0). Terus, kalau anda pindah ke jurusan yang banyak ceweknya… ng, yah bayangkan sendiri aja lah kinda harem protagonist gitu deh. Anda mungkin juga akan tertarik dengan subjek-subjek tertentu di jurusan baru anda dan kemudian berminat untuk melakukan penelitian di bidang tersebut. Terlalu cepat untuk mahasiswa? Tidak, sekarang banyak kok lomba penelitian tingkat mahasiswa yang uang penelitiannya sepenuhnya dari panitia.

Hm, apa lagi ya? Kok kayaknya masih banyak hal-hal yang memberatkan ya? Ah ya, saya tahu, hal-hal bagus kan memang tidak terasa. Datang tak bilang-bilang dan ketika pergi kita kehilangan. Sebagai pesan moral saja, anda sudah susah-susah masuk ke perguruan tinggi idaman anda, kemudian anda mungkin sudah berhasil pindah ke jurusan idaman anda, jadi syukuri. Jangan sampai anda ingin pindah jurusan lagi! Yah, bagaimanapun juga ga bisa sih, kan maksimal pindah jurusan hanya sekali. Ingat, syukuri, anda sudah mendapat kesempatan merasakan pendidikan tinggi yang tidak semua penduduk negeri ini merasakannya udah gitu pake lulus lama lagi, ngabisin subsidi negara aja. Buktikan bahwa anda pindah jurusan karena anda memang mampu, bukan karena anda tidak mampu!

03
Mei
07

Rasa dan Inkonsistensi

Salah satu nilai yang saya junjung tinggi adalah kejujuran. Termasuk didalamnya adalah konsisten dengan apa yang ditulis dan dikatakan. Saya pun selalu berusaha untuk jujur (apakah saya orang suci? bukan, ingat, “selalu berusaha” belum tentu berhasil!).

Nah, salah satu ketidakberhasilan saya adalah, terkait dengan post sebelumnya, tentang rasa suka itu.. anda mungkin berpikir saya adalah seorang aktivis masjid yang berpendapat bahwa pokoknya yang namanya pacaran, hts, relationship before marriage atau apapun lah namanya itu zina/mendekati zina, dan bahwa melihat dari tulisan saya, pasti saya tidak akan pernah “terjerumus” ke hal2 tersebut. Itu belum tentu benar! Saya, asal anda tahu saja, sering nembak cewek!

Tuh, kelihatan kan ketidak konsistenan saya! Tapi, itu ada alasannya. Bukan, bukan sering nembaknya yang ada alasannya. Tapi alasan dari ketidakkonsistenan saya.

Sebagai manusia, iman (cailah.. iman!) kita sering naik turun. Sering kalah sama yang namanya nafsu. Ketika nafsu sudah melewati barrier-barrier awal, seperti: “woi, dia itu high quality akhwat, sedangkan kamu sendiri?” atau “emang kamu udah punya sesuatu yang bisa dibanggain, sesuatu yang bisa bikin dia tertarik ama kamu?” (zlleeebbbb… uhuk2 ga jelas), dan barrier terakhir (jreng jreng jreng, tidak salah dan tidak bukan, iman) sedang turun2nya…

Maka, dapat dibuktikan bahwa…

Eh, bukan.

Maka terjadilah itu, “saya suka ama kamu” (tidak, saya masih cukup “tahu diri” untuk tidak menanyakan kesediaannya, cuma saya tidak tahu ada dimana “diri saya” ketika saya menanyakan kesediaannya)

Tidak, ini bukan fakta, cuma sedikit sintesis dari beberapa kepingan berbeda sejarah saya.

Jadi, eh, ya jadi… apa hubungan ama inkonsistensi ama perasaan? Bahwa perasaan yang mungkin saya sedang rasakan itu, dengan berat hati saya, katakan, bisa jadi inkonsisten juga!

30
Apr
07

26 januari 2007, suatu sore di bioter

anak2004        : emang ip lo aslinya berapa?

gw                   : sekarang 3.22, semester kemaren 0.61

anak2005        : berapa kang? 2.61?

gw                   : bukan, 0.61

anak2005        : ga kebayang.. masa ilang niat sampai segitunya?

anak2004        : masalahnya, teknik kimia itu ga sama kaya biologi. di biologi kalo ga niat  asal masih bisa maksain buat ngerjain tugas dll segala macem setidaknya masih bisa lulus. tapi, kalo di tk, ga bisa kaya gitu. kalo ga ada niat, dipaksain juga ga akan ngerti.

anak2005        : tetep aja ga kebayang.. kang arief seorang muslim gitu lho, masa’ sampai segitunya hanya karena ilang niat.

dan obrolan berlanjut tentang betapa tidak produktifnya gw di tahun kedua gw di itb. Program divisi unit kegiatan yang ga jalan. Bisa tidur di ujian yang soalnya susah minta ampun. Keseringan maen game (VOS dan NFS terutama). 

Apa yang bisa kita ambil dari obrolan tersebut?

Pertama, buat yang belum tahu, gw seorang mahasiswa pindah jurusan dari teknik kimia ke mikrobiologi. Alasan gw pindah, yang paling gampang untuk dijelaskan, “gw ilang niat dan ga ngerti mata kuliah apa2, dan kalo ud ilang niat, ngulang berkali2 juga ga bakalan lulus dan akhirnya gw bakal do”. Jadi gw memutuskan untuk pindah jurusan ke bidang yang lebih gw minati, yaitu mikrobiologi.

Beberapa orang menganggap kalo pindah jurusan itu melarikan diri dan tidak mau berusaha menghadapi kesulitan. Tapi menurut gw (yang sudah dan sedang mengalami pindah jurusan), pindah jurusan itu bentuk perjuangan gw. Orang lain berjuang menemukan niatnya kembali dan mengerti apa yang susah dimengerti dari beragam mata-kuliah. Gw berjuang mengatasi betapa susahnya pindah jurusan itu.

Ngomong ke dosen wali yang respon pertamanya ketika gw menyatakan niat pindah jurusan adalah “kayaknya ga bisa deh, memangnya ip kamu berapa?”. Bolak balik ke dirdik, tu jurusan, konseling itb. Mempelajari aturan akademik (yang coba aja sembarang tanyain ke temen, “ud pernah baca aturan akademik?” dan probabilitas jawaban “ud pernah” mungkin kurang dari 0.1).

Ngurusin SPP yang ga bisa diautodebet karena NIM udah ganti. Bingung milih mata kuliah yang mana yang harus diambil karena harus ngambil mata kuliah kebawah dan malah tabrakan ama dua mata kuliah lain yang masing-masingnya empat sks.

Menghadapi resiko bahwa ternyata di jurusan tujuan mungkin lebih gak niat lagi. Menghadapi resiko do yang lebih besar (sebagai mahasiswa pindahan, gw menjalani masa uji coba selama dua semester, dimana dalam dua semester itu gw g boleh dapet D, E, T serta ip dibawah 2.50 dan sks minimum adalah 36 (biar gw g bisa curang ngambil dikit dan dapet ip bagus)). Padahal selama dua tahun gw di itb (sebelum gw pindah), gw dpt ip diatas 2.5 itu baru sekali.

Meskipun harus gw akui, resiko2 kaya gitu itu yang mungkin memacu gw buat lebih berusaha. Klo di TK, gw masih punya waktu 4 tahun lagi sebelum batas waktu do habis. sementara di semester ini (semester satu tahun 0607), kalo nilai gw jeblok dapet D, E, T ato IP di bawah dua koma lima, “da.. dah.. ITB! Terima kasih atas semua kenangan indah selama dua setengah tahun terakhir.”

Kedua, ucapan “kang arief seorang muslim gitu lho” itu dalem banget. Menurut gw, memang bisa menyemangati tapi kalo waktunya salah…? Alhamdulillah gw sedang ceria (siapa yang g ceria IP nya naik 300% lebih?), tapi kalo lagi g ceria? bisa tambah down tuh gw.

Jadi kepikiran kalo mungkin ada suatu momentum minimal untuk bergerak maju/mengalami progress dalam diri seseorang, sebelum dia bisa dikasih ucapan2 dalem kayak diatas. Bila momentum minimal itu tidak tercapai atau jauh dari ambang batas minimal, worst case scenario, bisa kaya gini responnya, “saya juga ga yakin apakah saya seorang muslim…?” Astaghfirullah..!

Tentu saja batas momentum minimal ini berbeda2 untuk tiap orang. Bentuknya juga berbeda-beda. Kalo bagi saya, rasa syukur dalam wujud keceriaan mungkin adalah sebuah momentum yang cukup besar. Ga tau deh bagi orang lain? Kesimpulannya, hati2 dalam penggunaan ucapan yang dalam dan menusuk (meski memang, ucapan dalam dan menusuk itu biasanya ucapan yang benar).

24
Apr
07

Jilbab dan Titip Absen

Saya pernah baca di suatu buku, ketika seorang wanita memutuskan berjilbab, dia sedang berusaha (sedang berusaha = proses) untuk menjadi seseorang yang tidak mau dinilai sekadar karena, entah kecantikannya, molek tubuhnya, keterampilan memasak atau menjahit, dan segala macam hal yang biasa diasosiasikan dengan kewanitaan seseorang. Ketika seorang wanita berjilbab, dia ingin dinilai sebagai manusia, dengan nilai-nilai yang diasosiasikan pada manusia.

Terus? Suatu siang (atau sore?), ketika suatu mata kuliah sedang berjalan.. si dosen tiba2 nanya tentang materi yang sedang dipelajari dan tidak ada yang bisa menjawab. Karena kesal, si dosen milih nama mahasiswa secara acak dari daftar absen. Beberapa detik kemudian, nah lho, ketahuan dah tu yang nitip absen.

Beberapa detik kemudian.. nama seseorang akhwat berjilbab lebar disebut. Dalam hati saya, ah, dia mah ga mungkin titip absen! tapi.. lho kok ga ada respon dari seisi kelas? coba saya liat, eh beneran ga ada! dia? ga mungkin ah!

Hal ini kebawa terus di pikiran saya. Sampai suatu ketika… astaghfirullah, saya sudah menilai seorang wanita — yang sedang berusaha untuk memurnikan apresiasi orang atas dirinya, murni karena nilai manusianya — atas jilbabnya!

Jadi kepikiran, kalo orang yang sudah biasa melihat “ancur”nya akhwat berjilbab lebar kaya saya ini aja masih berpikiran segitu tingginya tentang jilbab, gimana dengan orang lain?

Lho kok jadi orang lain? Nih, coba apa alasan yang paling sering kita dengar dari seorang muslimah yang belum memutuskan pakai jilbab. Ah, hatinya belum siap. Ah, masih suka dugem. Ah, ntar harus jadi kalem bin anteng. Jawaban2 ini, sebegitu seringnya ditemukan, pasti bukan karena pemikiran pribadi masing2 muslimah yang ditanya, tapi ada pengaruhnya dari masyarakat.

Yup, masyarakat yang berpikir segitu tingginya tentang jilbab. yang pake jilbab itu pasti gini, pasti gitu, pasti begini, pasti begitu, pasti ga pernah titip absen (ups, ini pendapat saya) dll. Yaaahhh, kalo gitu, kapan para muslimah saudari2 kita yang belum berjilbab akan terencourage untuk berjilbab? Setiap kali ditanyain aja, pasti jawabnya belum siap, harus gini dulu, harus gitu dulu, harus ga boleh nitip absen dulu (ehem!) dll.

Jadi, bapak2, ibu2, adek2, kakak2, teman2, musuh2 (ini majas apa ya namanya?), ubahlah prasangka kita tentang jilbab! Adalah salah bahwa pemakai jilbab itu cewek kalem tidak berdosa! Pemakai jilbab, adalah seorang wanita muslimah yang berusaha berubah ke arah lebih baik dan sedang berada dalam proses perubahan tersebut. Dan muslimah yang sedang dalam proses perbaikan diri itu kan belum tentu berjilbab (tp jangan dijadiin alasan tidak berjilbab ya!) Nah, baru kemudian jilbab itu menjadi salah satu parameter terjadinya proses perbaikan tersebut.

Jadi, sekali lagi, memakai jilbab bukan berarti harus bertindak sebagaimana wanita bertindak dan orang suci berperilaku dalam pandangan masyarakat umum. Lemah lembut dengan tutur kata halus, jaga perilaku, ga pernah berbuat dosa dll. Liat tuh, ada satu temen saya, jilbab lebar, suatu siang melompat2 gembira karena dapat menunjukkan kaos kaki barunya yang berwarna pelangi. Dan satu lagi, temen saya, jilbab lebar, bersejarah ngetrek, kalo bawa motor pas belok aja gigi empat! Klo di jalanan sepi sih gapapa ya, lha ini didalam kampus! (ups, yang ini beneran ga boleh ditiru).

(tentang jilbab dan pandangan masyarakat umum tentang wanita, wanita berjilbab tu juga ada yang suka gosip lho. kalo di sinetron kita sering liat cwe berjilbab digosipin sok suci dan ditatap dengan pandangan khas wanita (u kno wha i mean). nah, kalo di mesjid kita sering dengar cwe berbaju ketat, again, ditatap dengan pandangan khas wanita, dan digosipin, oleh cwe berjilbab! kapan yang baju ketat mau pake jilbab, kebetulan dapat hidayah solat di masjid aja dipelototin!)

Ingat, siapa yang terbaik di masa jahiliyahnya akan menjadi yang terbaik di Islamnya. Ukhti, be better but stay who you are. cause there’s nothing bout you we should change (halah, Joey McIntyre).

 




Daisypath Next Aniversary Ticker

berapa orang sih yang hadir?

tracker

Parameter eksistensi kah?

  • 18,057 hits