28
Okt
07

puisi yang terlupakan: hanya sebuah ucapan selamat tinggal

setelah semua itu
apapun pada akhirnya engkau
*seharusnya ada satu/dua baris disini untuk menutup puisi ini*

nah, gw bener2 lupa redaksionalnya, pokoknya sesuatu tentang “arti” atau apa gitu. biasanya, segala sesuatu tentang dia itu gw ga mungkin lupa.

aniwei, the point is, ini sebuah postingan curhat, sangat basbang, gw ga peduli tata bahasa dan maaf kalo tulisan gw belepotan *yeah, as always..*

so.. what’s the point?

i’m over her, period.


21 Tanggapan ke “puisi yang terlupakan: hanya sebuah ucapan selamat tinggal”


  1. Oktober 28, 2007 pukul 9:59 pm

    precaution aja kalo ada yang nanya, sebenernya apa sih makna dari puisi ini?

    hmmm, intinya sih, meskipun sudah berlalu, sejarah kita adalah apa yang membentuk kita. kita harus bersyukur untuk itu. entah itu baik atau buruk, menyenangkan atau bikin sedih.

    namun, yang sudah berlalu tidak mungkin diubah. what’s matter now is the future. and i’m 100% ready to stop living in the past like i always did.

    pertamax ah :P *sok seleb*

  2. Oktober 29, 2007 pukul 1:23 am

    post sama comment sama2 berisi
    :lo:

  3. Oktober 29, 2007 pukul 1:27 am

    kayaknya baru patah hati nih?
    :lol:

  4. Oktober 29, 2007 pukul 11:14 am

    sejarah kita adalah apa yang membentuk kita. kita harus bersyukur untuk itu. entah itu baik atau buruk, menyenangkan atau bikin sedih.

    Yah, belajarlah buat bisa begitu,, :mrgreen:
    dan seperti biasa, Ma ga ngerti puisi,, :P

  5. Oktober 29, 2007 pukul 4:05 pm

    @almas
    wah, kurang memperhatikan isi post nih, kan saya udah bilang kalo itu basbang. jadi… patah hati? siapa yah? :mrgreen:

    @Rizma
    belajar? mensyukuri sih sudah bisa, berhenti hidup di dalamnya yang masih berusaha.. :mrgreen:

  6. Oktober 29, 2007 pukul 7:33 pm

    sejarah kita adalah apa yang membentuk kita. kita harus bersyukur untuk itu. entah itu baik atau buruk, menyenangkan atau bikin sedih.

    Sebenarnya Akhi Kitalah yang membentuk sejarah kita
    Yang Partikular jangan dijadikan satu unit Keseluruhan walaupun memang bisa dijadikan Yang Essensial
    *semoga kepala U berasap*

  7. Oktober 29, 2007 pukul 8:17 pm

    ng, sejarah bikin kita, kita bikin sejarah.

    kita sendiri yang memutuskan, kita pengen jadi apa. gitu?

    konteks sejarah dalam hal ini bukan berarti kita menjadi pasif kok, tp dalam artian apa yang sudah terjadi, entah itu dari kita sendiri yang ngelakuin, atau bukan kita sendiri.

    dan, iya, ngga jadi keseluruhan kok, kan sejarah gw bukan cuma itu doang :P
    hei, bahkan sekarang pun gw sedang bikin sejarah gw sendiri, dan itu apart dari apa yang gw tulis dalam puisi itu lho :P

  8. Oktober 30, 2007 pukul 8:58 pm

    Tergantung pengertian sejarah itu apa
    kalau Sejarah yang tertulis itu jelas buatan manusia

  9. Desember 22, 2007 pukul 6:52 pm

    *kesepet karena sadar belum ada posting baru sampe2 salah satu pembaca setia terpaksa baca2 post lama* :(

  10. Desember 24, 2007 pukul 7:42 pm

    rifu……..tulisan barumu mana…….
    *merengek*

  11. Desember 26, 2007 pukul 6:38 pm

    ini baru mau bikin.. :P

    *duuuh,,, sampai ada yang ngetawain..*

  12. Februari 3, 2009 pukul 10:46 am

    history or herstory…

    just story.

  13. Februari 3, 2009 pukul 12:39 pm

    @abee
    udah bikin yaa :D

    @wildy
    my story :mrgreen:

  14. Maret 10, 2009 pukul 11:52 am

    hmmm, intinya sih, meskipun sudah berlalu, sejarah kita adalah apa yang membentuk kita

    kita yang sekarang ini adalah karena kita yang telah melalui masa lalu itu :)

  15. Maret 20, 2009 pukul 1:15 pm

    @snowie
    hmm, maka? :)

    *kalimatnya kayak belum titik, baru koma..*

  16. Maret 20, 2009 pukul 5:16 pm

    ya udah di titik-in aja deh :P

    nggak ada sambungannya. bolak-balikin aja sama yang di quote :mrgreen:

  17. Maret 20, 2009 pukul 7:43 pm

    ah ngga seru nih mbak snowie.. ;) )


Tinggalkan Balasan




Daisypath Next Aniversary Ticker

berapa orang sih yang hadir?

tracker

Parameter eksistensi kah?

  • 17,286 hits