Bioenergi , bukan Hanya Alternatif.
Selain tiga jenis bahan bakar yang telah disebutkan di depan, bioenergi juga digunakan dalam bentuk biokerosin, minyak bakar nabati, hidrokarbon dari lateks alam serta pembangkitan listrik dari sisa/limbah panen dan pengolahan perkebunan dan pertanian. Indonesia yang sangat kaya dengan bahan-bahan mentah sumber energi berbasis hayati tersebut tentunya harus bisa memanfaatkan dengan baik.
Pertanyaannya, mengapa kita masih bergantung pada bahan bakar berbasis fosil bila kita mempunyai potensi yang sangat besar untuk bahan bakar berbasis hayati? Mengapa bioenergi hanya menjadi sebuah alternatif? Ada tiga hal yang bisa kita tinjau berkaitan dengan pertanyaan-pertanyaan ini. Tiga hal tersebut yaitu kebijakan pemerintah, paradigma berpikir masyarakat, serta teknologi yang saat ini dipakai di masyarakat.
Pemerintah kita sebenarnya sudah cukup tanggap dalam mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang berkaitan dengan pengembangan bioenergi. Hal ini bisa kita lihat dari beberapa peraturan yang sudah dikeluarkan pemerintah.
-Peraturan Pemerintah No. 3 Tahun 2005 tentang Penyediaan dan Pemanfaatan Tenaga Listrik
-Instruksi Presiden No. 1 Tahun 2006 tentang Penyediaan dan Pemanfaatan Bahan Bakar Nabati (Biofuel) sebagai Bahan Bakar Lain
-Keputusan Menteri ESDM No. 0002 tahun 2004 tentang Kebijakan Energi Hijau
-Keputusan Menteri ESDM No.1122K/30/MEM/2002 Pedoman Pembangkit Skala Kecil Tersebar
-Peraturan Menteri ESDM No. 002/2006 tentang Pengusahaan Pembangkit Listrik Tenaga Energi Terbarukan Skala Menengah
Peraturan-peraturan ini telah menyediakan dukungan yang diperlukan untuk pengembangan bioenergi. Namun masih ada hal yang mengusik penulis. Dalam Inpres No.1 Tahun 2006 yang bertujuan mempercepat penyediaan dan pemanfaatan bahan bakar nabati (biofuel) sebagai bahan bakar lain (BBL), 13 Menteri, Gubernur dan Bupati/Walikota telah ditugaskan untuk mengambil langkah-langkah untuk melaksanakan percepatan dan pemanfaatan biofuel sebagai BBL. Lho, kok masih sebagai BBL? Selama bioenergi hanya dianggap sebagai alternatif dari bahan bakar fosil, kita tampaknya masih harus menunggu lebih lama lagi sampai bioenergi benar-benar bisa dimanfaatkan secara umum dan memasyarakat.
Paradigma berpikir masyarakat juga memegang peranan penting. Ada sebuah cerita yang penulis dengar sewaktu menjadi panitia seminar ”Pengembangan Bioenergi untuk Pembangunan yang Berkelanjutan” Ahad lalu di GSG Atas Salman. Ketika biogas berbasis kotoran sapi pertama kali dikembangkan di peternakan-peternakan sekitar Bandung, tanggapan pertama adalah rasa jijik para peternak yang berpikiran ”ih, pake tai buat masak?!”. Beberapa tahun kemudian ketika harga minyak tanah naik, para peternak yang dahulu mau mencoba memasang instalasi pembangkitan biogas pun menikmati rasanya ga usah beli minyak tanah.
Selain cerita dari peternakan sapi, penulis juga pernah mendengar tentang gasohol sebagai bensin oplosan. Memang gasohol adalah bensin yang dicampur dengan etanol, tapi campuran ini bahkan lebih bagus daripada Pertamax, berdasar ujicoba yang dilakukan peneliti BPPT (ujicoba dilakukan pada Kijang dengan kecepatan 80km/jam menggunakan gasohol E10/bensin dengan 10%-volum etanol).
Permasalahan paradigma ini bisa diatasi dengan pewacanaan-pewacanaan ke masyarakat dan kalau bisa dibantu dengan contoh-contoh nyata seperti kisah-kisah diatas.
Hal ketiga adalah teknologi yang saat ini dipakai di masyarakat. Bila kita ingin sepenuhnya mengaplikasikan bioenergi dalam kehidupan kita sehari-hari, tentu akan ada penyesuaian-penyesuaian yang harus dilakukan.
Teknologi yang saat ini telah luas diterapkan di masyarakat kebanyakan memang masih untuk digunakan dengan bahan bakar berbasis fosil. Lihat saja semua mobil-mobil itu. Lihat saja semua motor-motor itu. Solusinya, ya penggunaan bahan bakar berbasis hayati yang tidak memerlukan modifikasi pada mesin-mesin bakar yang sudah ada. Biodiesel dan bioetanol sudah dapat digunakan dalam taraf tertentu dengan mesin-mesin tersebut. Namun, penerapan teknologi yang sesuai untuk penggunaan bahan bakar berbasis biomassa tetap harus dilakukan. Hal itu termasuk pengembangan fasilitas distribusi dan produksi. Pengembangan ini harus dilakukan dengan tidak tersentralisasi karena rata-rata bahan mentah bahan bakar berbasis biomassa memiliki radius pengumpulan ekonomik hanya 80 km. Pengembangan yang terdesentralisasi juga membantu menaikkan taraf ekonomi masyarakat daerah.
Akhir kata, memang bioenergi saat ini belum bisa dinikmati secara umum. Namun pengembangan-pengembangan yang dilakukan oleh kalangan peneliti, kebijakan-kebijakan pemerintah yang sudah mulai mendukung pengembangan bioenergi, serta pewacanaan-pewacanaan yang dilakukan oleh pemerintah, kalangan peneliti dan unit kegiatan mahasiswa membuktikan bahwa hari-hari dimana harga bahan bakar ga ikut-ikutan naik saat harga minyak dunia naik bukanlah suatu mimpi kosong lagi.
dan ini tulisan yang lebih lama lagi…
OPEN SOURCE SEBAGAI ALTERNATIF SOFTWARE BAJAKAN
Software Bajakan: Mengapa Bisa Booming?
Faktor tingginya harga inilah yang menyebabkan adanya faktor kedua, yaitu hadirnya bisnis penjualan software bajakan. Salah satu contohnya adalah penjual-penjual software bajakan di pinggir Jalan Ganesha. Faktor selanjutnya adalah konsumen. Mereka adalah orang-orang yang telah memakai komputer dalam keseharian mereka. Beberapa dari mereka mengetahui bahwa software bajakan itu tidak baik dan ilegal. Meskipun demikian, kebanyakan dari mereka memang tidak bisa beralih dari software bajakan. Ada yang merasa kerepotan bila harus memakai sistem operasi yang asing, sehingga memilih untuk tetap bertahan memakai Windows®. Ada yang memang—maaf kalau sedikit kasar—gaptek (gagap teknologi) dan tidak berani mencoba karena takut komputernya rusak. Ada pula yang memang tidak tahu bahwa ada sistem operasi selain Windows®.
Bila masalah yang dihadapi adalah tingginya harga yang harus dibayar ketika ingin membeli software asli, maka memang ide pertama yang muncul adalah membeli bajakannya yang lebih murah. Namun hal ini tak bisa dijadikan solusi mengingat segala risiko yang kita hadapi (baik di dunia maupun di akhirat). Resiko dunia, itu sudah jelas. Akhirat? Yup, berdasarkan KEPUTUSAN FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA Nomor : 1/MUNAS VII/MUI/15/2005 Tentang PERLINDUNGAN HAK KEKAYAAN INTELEKTUAL (HKI), setiap bentuk pelanggaran terhadap HKI, termasuk namun tidak terbatas pada menggunakan, mengungkapkan, membuat, memakai, menjual, mengimpor, mengekspor, mengedarkan, menyerahkan, menyediakan, mengumumkan, memperbanyak, menjiplak, memalsu, membajak HKI milik orang lain secara tanpa hak, merupakan kezaliman dan hukumnya adalah haram.
Kekayaan intelektual di sini adalah kekayaan yang timbul dari hasil olah pikir otak, yang menghasilkan suatu produk atau proses yang berguna untuk manusia, dan diakui oleh Negara berdasarkan peraturan perundangan-undangan yang berlaku. Oleh karena itu, HKI adalah hak untuk menikmati dampak ekonomis dari hasil kreativitas intelektual milik yang bersangkutan, sehingga memberikan hak privat baginya untuk mendaftarkan, dan memperoleh perlindungan atas karya intelektualnya. Berdasarkan definisi tersebut software komputer termasuk kekayaan intelektual, dan usaha-usaha yang terkait dengan pembajakannya merupakan pelanggaran terhadap HKI.
Solusi utama tentu membeli produk yang sepadan namun sesuai dengan kemampuan keuangan kita, kalau bisa semurah mungkin atau bahkan gratis. Salah satu solusi yang dapat dipertimbangkan adalah software berjenis open source. Source code software tersebut dibuka untuk umum, sehingga anggota masyarakat yang mengerti dapat memodifikasinya, dengan catatan perubahan tersebut harus didokumentasikan. Karena source code-nya dibuka untuk umum, otomatis software tersebut menjadi gratis. Biaya-biaya tambahan mungkin hanya untuk masalah tetek bengek seperti harga CD (Compact Disc) dan kemasannya.
Mengapa Harus Open Source?
Walaupun tampaknya menjanjikan jika dilihat dari sisi harga, software open source tetap tidak bebas dari kekurangan. Hal-hal yang signifikan bagi pengguna awam tampaknya belum mendapat perhatian. Ini tampak pada tampilan yang monoton, menu yang sulit dimengerti, pesan-pesan error yang tidak jelas, navigasi yang perlu diadaptasi lagi oleh pengguna (shortcut Windows® tentu tidak berfungsi lagi pada software jenis ini). Beberapa hal di atas bukannya tidak mendapat perhatian dari pengembang software open source. Namun bila dibandingkan dengan Windows®, kelemahan ini tentu akan menjadi sesuatu yang mengganggu bagi orang yang belum terbiasa.
Penutup
Bagaimana caranya? Pertama, dengan ikut menggunakannya. Bila terasa susah untuk pertama kalinya, bukankah semua hal memang seperti itu? Bila merasa tidak cocok dengan tampilan, bukankah kita bisa mengkonfigurasinya agar cocok dengan selera kita? Setelah terbiasa menggunakannya, kebiasaan menggunakan software open source tersebut akan membawa kepada kontribusi kedua yang bisa kita lakukan. Yaitu agar setiap orang yang menggunakannya bisa ikut mengembangkan software tersebut, walaupun pengembangan itu awalnya hanya untuk diri kita sendiri. Agar setiap orang dapat semakin menerima software open source, semakin mudah menggunakannya, dan agar pengembangan software komputer–sesuatu yang sangat berharga bagi pengembangan kebudayaan manusia—tidak cuma dilakukan oleh orang yang itu-itu saja.
wassalamu ‘alaikum


kok dua tulisan ini tidak dipisah saja? aku sih gak baca yg bioenergy. lebih tertarik yang soal open source. iya betul org gak bisa pergi dari bajakan tapi org juga gak dengan mudah beralih ke open sorce, ya tentu seperti yg sudah ditulis diatas, banyaknya kekurangan itu…
Kalo menyangkut masalah game, aku belum menemui game open source yang cukup besar… aku orgnya ketergantungan banget ama bajakan. beli game bajakan aja belum tentu isinya bagus (gameplay-nya), gimana jadinya kalo udah beli yang original seharga ratusan ribu?
prihatin juga sih sama keadaan ini…
hahaha
waduh, tadinya memang ingin dipisah saja, cuma karena sewaktu dipost di blogspot memang jadi satu *maklum malas* dan ketika diexport ke wordpress ya jadi satu juga.
hm, beralih ke opensource yah, aku sih akhirnya bisa nyaman bekerja dengan linux waktu itu karena ketemu distro linux yang (menurut gw) komplit, dalam artian kebutuhan primer gw yg terkait komputer sudah terpenuhi. apalagi waktu itu w****** gw lagi suka restart ga jelas (kayaknya sih karena gw pake kebanyakan harddisk, sementara di tempet desktop gw itu ada, pasokan listrik memang kurang). eh, tapi begitu nyoba distro yang gw bilang diatas, malah ga pernah kejadian kaya gitu. ya, karena terpaksa juga sih
kalo maen game… ahaha~ itu kan hedonisme.. hindari saja yah *rifu ga sadar dirinya sendiri sering maen*
belakangan ini dipikir2, sebenernya tulisan ini agak “kurang” disanasini. kapan2 lah diapdet dan sekalian dibikinkan post sendiri saja.
bos punya informasi tentang bniogas dari enceng gondok gak? boleh dunk dikirimin aku thanks ya.
wah, kalo secara teoretis sih segala macem biomassa yang mengandung selulosa sih bisa dibikin jadi biogas. kalo informasi teknisnya kurang tau tuh, maaf yah.